Dalam perjalanan ke Tangkahan, mengarungi malam gelap, tanpa arah yang pasti, meskipun tujuan itu pasti (Tangkahan), di perkebunan sawit yang tak beraspal mulus, aku punya segudang cerita, rangkaian2 kenangan yg tentulah tk dpt diulangi lagi.
Shalahuddin.
Ikhwan cilik berumur 9 tahunan yg duduk di kelas 5 SD itu selalu mengulum senyumku setiap mengingat diskusi2 kami bersamanya.
Raut wajah teduhnya benar-benar copy-an asli dari wajah ayahnya, salah seorang Muharrik dakwah di kota Medan.
Tingkah lakunya, baik saat memperlakukan adiknya, bersama uminya, atau bersama kami, telah menampakkan cermin proses tarbiyah yang cerdas. Ya, cerdas. Aku suka dengan pilihan kata itu. Karena yg aku rasakan dri proses perkenalan singkat dg umminya, adalah dua point; cerdas dan mencerdaskan. Subhanallah..
Selepas sarapan pagi di Tangkahan, Shalahuddin kami pancing untuk bercerita.
Kami: “Shalah udah mentoring?”
Shalah: mentoring?? (Mengernyit aneh)
Kami: ya, liqo maksdunya
Shalah: oh iya, Shalah liqo sama Ami (oom) Batman. Sebenarnya hari ini liqo. Tapi karena rihlah ke Tangkahan, jadi izin liqonya.
Kami: Ami Batman?? Sapa tu??
Shalah: hehee.. Itu kepanjangan dari Batak Mandailing. Kalo Bakar, Batak Karo.
Kami: hahaa, itu toh mksdnya. Gimana liqonya? Lancar g?
Shalah: lancarlah. Dalam satu bulan agenda kami macam2. Nanti ada satu minggu main futsal, jalan2, makan bakso, dll. Kmrn kami makan bakso.
Kami: wahh, subhanallah.. Shalah cita2nya apa?
Shalah: banyaak.. Kata Abi, Shalah jd Jenderal aja.
Kami: trus Shalah mau??
Shalah: ya, mau jd Jenderal. Tp Shalah jg mau jd Menteri Keuangan.
Kami: wahh.. Kenapa tu mau jd Menkeu pulak??
Shalah: karena sekarang Shalah Bendahara di liqo-an. Jdi cocok jd menteri Keuangan. Udah gitu, Shalah jg mau selamatkan uang dari koruptor.
Kami: subhanallah… Mantapnyaa.. Nanti klo dh jd menkeu ingat dengan kami ya?!
Begitu sedikit cuplikan singkat. Shalahuddin dan adik-nya yg jg lelaki, punya watak yg berbeda. Sang abang tenang, sang adik lasak, tapi selama dua hari kami bersama tidak pernah terlihat pertengkaran fisik. Kalaupun ada hal yg tidak sesuai satu sama lainnya, plg jauh dihadapi dengan perdebatan. Itu pun perdebatan mencerdaskan. Berhikmah.
Barangkali sang Umi menerapkan sistem diplomasi dalam keluarga mereka.
Dua bersaudara ini jg yang selalu “ready” terlebih dahulu dalam setiap agenda kami. Beberap kali kamar kami diketuk oleh Shalahuddin dan adiknya. (Entah knp, kamar kami sj favorit mereka
). baik itu agenda pagi, agenda ba’da duha, agenda ba’da bersih2, dll.
Ba’da duha, sambil menunggu yg lain, dua bersaudara ini berkunjung ke kamar kami, duduk bercerita. Shalahuddin cerita kalo ia pernah menang lomba renang. Dia les renang bersama abang2nya, begitu jg sang adik. Tp krn mmg jiwa lasak sang adik lbh dominan, Shalahuddin bercerita bahwa guru renang adiknya malah kebalik diajar2in (ditokoh2in,red) sang adik. Hahaa.. Lucu..
Sembari kami bercerita, sang adik malah asyik sendiri membakar plastik di halaman kamar kami, ia memperhatikan api yang menetes2 dari plastik yg dibakar itu.
Hmm..
Berkumpul dalam berkah (insya Allah) bersama generasi2 kecil ini membuat perjalanan dengan arah “tak pasti” menuju Tangkahan malam itu, berubah dari “deg-deg serr” menjadi manis.
Satu yg tercetus dari ucapan seorang kakak dlm perjalanan itu,
“Hmm, beginilah jalan dakwah. Terkadang penuh keraguan. Penuh rasa was-was untk melangkah. Namun saat kita bersama, saling menyokong, semua terpulihkan.” Subhanallah..