“You Are What Are You Drive”

“You Are What Are You Drive”

“You Are What Are You Drive”

Menarik membaca jargon salah satu produk motor ini.
Ia terpampang besar di salah satu persimpangan jalan protokol kota ini.

Setiap “pengendara”, selalunya nyaman dengan apa yang dikendarainya. Seperti saya yang nyaman dengan “Si Merah” (Supra) saya. Ato teman-teman yang nyaman dengan motor metik’y (eh benerkah begitu tulisannya?), baik itu Mio, Vario, Scoopy, atau pun tandingan Scoopy, si Fino..

Ada yang mutlak gak bisa menggunakan motor lain selain miliknya. Bukan karena tak bisa, tp krn mmg ga biasa. Ada juga yg fine-fine saja mnggunakan jnis kndaraan apapun.

Ya bgitulah, dlm khidupan ini, kt dihadapkan pd berbagai pilihan “kendaraan”. Kadang seiring waktu ia bertambah, muncul inovasi2 baru. Ada yang merasa “cukup” dg kendaraan pertama’y tanpa mrsa perlu memilih jenis baru. Ada pula yg memilih “gonta-ganti”, coba2 mana yg bener-bener “pas” di hati.

Namun satu saja, apapun pilihan itu, biarlah ia terpilih karena kita paham segala pernik “onderdil” yg membangunnya. Jangan asal pilih, dan jangan asal ikut (taklid buta). Karena tak ada yg lebih membahagiakan, kcuali kita “kenal” dan kemudian kita “cinta”.

Mari melihat kembali pd kendaraan yg kt pilih, sjauh mana kt mengenal apa yg kt pilih, sehingga pilihan itu menenangkan hati, mencerdaskan akal. Jangan2 kita memilih karena ingin dibilang punya “kendaraan”. Tapi bagaimanapun itu, punya “kendaraan” yang kt tau betul kurang2nya, lemahan2nya, jauh lebih baik daripd tak “berkendaraan” dan merasa MAMPU berjalan dengan kaki sndiri. Itu menurut saya.

Pku,25202012

[nulis aja]

[nulis aja]

Menarik duduk di posisi ini
Serasa dekat sekali dengan awan
Bahkan posisi ini jg mnyejajarkanku dengan pucuk-pucuk pohon rindang
Angin yang sesekali menyentuh wajah
Seketika posisi ini menyulap suasana bak di atas bukit, atau di puncak gunung..

[one day after]

Dan di suasana yg berbeda, aku melihat mobil2 dan manusia mulai mungil
Sedikit sj ketinggian ditambah, maka makin kecil lh sgala dbwh sana
Yang luas dan tetap indah adalah “skyscape” yg terlihat dg posisi sedikit mendongak
ia adalah atap yg yg tak kutau dmn ujung’y
Awan terhias yg berulang2 Al-Qur’an menyuarakannya
ia mungkin adalah alas surga
Yg ntah di lapisan mana agar surga terjamah

Ah, tnyata setebal itulah jarak dunia dan surga
Setebal langit yang ntah berakhir hingga dimana..
Hanya Satu-lah yg mampu melesatkan Muhammad (saw) kesana

_EkaHospital,5th floor,17022012_

Kemana-mana

Kemana-mana

Aku hanya menggenggam satu perasaan.
Kemana-kemana.
Dimana-dimana.
Bahwa bersama ibu ttp nikmat yg tk terbeli, tak terganti,
Mungkin di sudut yg jauh, aku tertawa lepas. Riang bersama kekawan.
Tapi tidak semua yg di hati dpt tercerabut sbgmna ibu mendengar, ibu menanggapi, ibu membersamai.
Jauh aku menengarai, bagaimana sosok ini masuk dlm kehidupan sebegitu dalamnya. Sampai-sampai ia tertanam di lapisan tersubur dari diri, jauh sekali ke dalam bukan? Kemudian ia tumbuh sumbur, menjulang, besar tanpa tercegah, berbuah, mengakasia.. Ia perpaduan tulip yang segar, akasia yang lincah, dan beringin yang rimbun lagi besar.

Dan bagaimana pula bs aku heran dengan pengaruh besar seorang “ibu”? Bukankah Ia mencintai jauh sebelum aku ada? Mengharapkan keselamatan saat samasekali aku tak berdaya? Bahkan berimajinasi banyak hal tentangku saat nyawa pun belum Allah tiupkan?

Dan mungkin, ibu dulu mengelus perut sambil tersenyum bahagia. Orang2 terheran mlht ibu berbicara pd perut, pdhl sejatinya ia sdg bercakap2 dan mengulur-ulur kata cinta pd seonggok janin di dlm rongga rahimnya. Lalu bagaimanalh mungkin ibu bisa menjauhkan sejengkal saja hidupnya dari sang anak? Manalah mungkin.

Dahulu dan sekarang, juga nanti, nyawa pun rela ibu hargai sebagai bukti sayup-sayup cintanya pada janin merah, bocah kecil, remaja tanggung, dewasa muda, atau telah beranak-pinak sekali pun. Tiada yg berkurang dari cinta itu. Pada fase mana pun dari kehidupan ini.

Its just the feeling 2x that I have..

_Melaka dalam Kesendirian,12022012_

Shalahuddin Calon Menkeu

Shalahuddin Calon Menkeu

Dalam perjalanan ke Tangkahan, mengarungi malam gelap, tanpa arah yang pasti, meskipun tujuan itu pasti (Tangkahan), di perkebunan sawit yang tak beraspal mulus, aku punya segudang cerita, rangkaian2 kenangan yg tentulah tk dpt diulangi lagi.

Shalahuddin.
Ikhwan cilik berumur 9 tahunan yg duduk di kelas 5 SD itu selalu mengulum senyumku setiap mengingat diskusi2 kami bersamanya.
Raut wajah teduhnya benar-benar copy-an asli dari wajah ayahnya, salah seorang Muharrik dakwah di kota Medan.

Tingkah lakunya, baik saat memperlakukan adiknya, bersama uminya, atau bersama kami, telah menampakkan cermin proses tarbiyah yang cerdas. Ya, cerdas. Aku suka dengan pilihan kata itu. Karena yg aku rasakan dri proses perkenalan singkat dg umminya, adalah dua point; cerdas dan mencerdaskan. Subhanallah..

Selepas sarapan pagi di Tangkahan, Shalahuddin kami pancing untuk bercerita.
Kami: “Shalah udah mentoring?”
Shalah: mentoring?? (Mengernyit aneh)
Kami: ya, liqo maksdunya
Shalah: oh iya, Shalah liqo sama Ami (oom) Batman. Sebenarnya hari ini liqo. Tapi karena rihlah ke Tangkahan, jadi izin liqonya.
Kami: Ami Batman?? Sapa tu??
Shalah: hehee.. Itu kepanjangan dari Batak Mandailing. Kalo Bakar, Batak Karo.
Kami: hahaa, itu toh mksdnya. Gimana liqonya? Lancar g?
Shalah: lancarlah. Dalam satu bulan agenda kami macam2. Nanti ada satu minggu main futsal, jalan2, makan bakso, dll. Kmrn kami makan bakso.
Kami: wahh, subhanallah.. Shalah cita2nya apa?
Shalah: banyaak.. Kata Abi, Shalah jd Jenderal aja.
Kami: trus Shalah mau??
Shalah: ya, mau jd Jenderal. Tp Shalah jg mau jd Menteri Keuangan.
Kami: wahh.. Kenapa tu mau jd Menkeu pulak??
Shalah: karena sekarang Shalah Bendahara di liqo-an. Jdi cocok jd menteri Keuangan. Udah gitu, Shalah jg mau selamatkan uang dari koruptor.
Kami: subhanallah… Mantapnyaa.. Nanti klo dh jd menkeu ingat dengan kami ya?!

Begitu sedikit cuplikan singkat. Shalahuddin dan adik-nya yg jg lelaki, punya watak yg berbeda. Sang abang tenang, sang adik lasak, tapi selama dua hari kami bersama tidak pernah terlihat pertengkaran fisik. Kalaupun ada hal yg tidak sesuai satu sama lainnya, plg jauh dihadapi dengan perdebatan. Itu pun perdebatan mencerdaskan. Berhikmah.
Barangkali sang Umi menerapkan sistem diplomasi dalam keluarga mereka.

Dua bersaudara ini jg yang selalu “ready” terlebih dahulu dalam setiap agenda kami. Beberap kali kamar kami diketuk oleh Shalahuddin dan adiknya. (Entah knp, kamar kami sj favorit mereka :D ). baik itu agenda pagi, agenda ba’da duha, agenda ba’da bersih2, dll.

Ba’da duha, sambil menunggu yg lain, dua bersaudara ini berkunjung ke kamar kami, duduk bercerita. Shalahuddin cerita kalo ia pernah menang lomba renang. Dia les renang bersama abang2nya, begitu jg sang adik. Tp krn mmg jiwa lasak sang adik lbh dominan, Shalahuddin bercerita bahwa guru renang adiknya malah kebalik diajar2in (ditokoh2in,red) sang adik. Hahaa.. Lucu..
Sembari kami bercerita, sang adik malah asyik sendiri membakar plastik di halaman kamar kami, ia memperhatikan api yang menetes2 dari plastik yg dibakar itu.

Hmm..
Berkumpul dalam berkah (insya Allah) bersama generasi2 kecil ini membuat perjalanan dengan arah “tak pasti” menuju Tangkahan malam itu, berubah dari “deg-deg serr” menjadi manis.

Satu yg tercetus dari ucapan seorang kakak dlm perjalanan itu,
“Hmm, beginilah jalan dakwah. Terkadang penuh keraguan. Penuh rasa was-was untk melangkah. Namun saat kita bersama, saling menyokong, semua terpulihkan.” Subhanallah..

The Illustration of Photography

The Illustration of Photography

“All food photography are for illustration purpose only”

Pernah membaca tulisan ini?

Hmm, untuk saya ini adalah kali pertama, masuk restoran yang “baik banget” (menurut saya) menuntun pelanggannya untuk tidak over ekspektasi dengan gambar2 yang tersedia.

Kadang pelanggan tidak siap “terkecoh” dengan gambar2 makanan yang ditampilkan restoran atau apa sajalah itu. Jadilah stelah pesanan diterima yang ada s*mpah serap*h atau cac* m*ki. Padahal salah siapa cobak?!
Salah tu pesanan?!
Salah penjualnya?!
Salah tukang foto?!
Ato salah gue?!
Haiih…

Maka saya (atau para pelanggan) seharusnya disadarkan dengan kekata tadi. Yup, disadarkan untuk realistis. Jangan mudah ketipu dengan siluet fotografi. Nggak semua yang loe liat tu bener! Erhhh…

Juga berlaku mungkin ya untuk hal-hal lain..
Gak ada salahnya sih meresapi setiap detail fotografi, editing sekalipun. Karena menangkap (capturing,red) dan mengedit hasil jepretan jg butuh seni yang (paling tidak) di atas rata-rata. Tapi (menurut saya lagi nih) setelah melihat objek aslinya coba tahan (mulut) sejenak, jangan berkomentar apa2, seperti: “oh kok begini aja?”, “hmm, gini doank?!”, tapi cb sentuh dulu (misalkan saja itu makanan), cubit sedikit, bismillah, cicipi, resapi, dan emmm… Insya Allah tak kalah nikmat dengan ilustrasi fotografinya.. :)

11022012
Belajar realistis

Percaya

Percaya

Kalo kita berjalan dengan apa yang kita percaya, sepertinya kaki tak kan kuasa untuk kram, ringan saja melaju..

Pemanasan (streching) seorang dlm hidup ini dimulai dengan “percaya”. Seperti, percaya kepada apa yang hendak ia tuju, percaya kpd Yang merunutkan skenario hidup itu sendiri, percaya bahwa senantiasa setiap doa didengar, terlebih-lebih. Percaya pada apa yang ia “percaya”. Ya, insya Allah begitu.

Sing:
When u’re searching for the light
And see no hope inside
Be sure and have no doubt
He’s always close to you..

.. I believe..


By: Maher Zein feat. Irfan Makki

Mereka T’lah Lari

Mereka T’lah Lari

Ini tiadalah dugaan, buruk sangka, atau dusta
Sepi itu nelangsa
Sendiri itu nelangsa
Sepi dan Sendiri sungguh-sungguh nelangsa

Ini pun benarlah adanya, fakta, tiada retorika
Sepi itu menertawakan
Sendiri itu menertawakan
Sepi dan Sendiri itu menertawakan

subuh nelangsa, senja ditertawa

Aku lelah mencari sebab nelangsa
Tangan pun kehabisan cara menutup muka dari ejek dan tawa

Sampai pada tepukmu pada pundakku
rangkulmu pada bahuku
dan
GENGGAMMU pada tangan-lelahku

Satu saja yang kurasa kemudian itu,
Sepi dan Sendiri lari dariku…

Pada makhluk-makhluk-Nya yang membuat Sepi dan Sendiri lari dariku…
Bilik Juang, 4/2/2012

Telur Bulat, Mata Sapi, dan Dadar

Telur Bulat, Mata Sapi, dan Dadar

Saya menangkap (lagi-lagi) hal unik di paginya Medan.

Sarapan.

Ya, ini tentang sarapan pagi di Medan. Para penjual lontong dan nasi uduk disini selalu menyedikan tiga jenis pilihan telur untuk para pelanggannya. Telur dadar, telur mata sapi, dan telur bulat.

Saya tidak tau, apakah di tempat lain jg begini, tapi saya pribadi, baru menemukannya di tanah batak ini. Entah karena tempat-tempat yang saya kunjungi masih sedikit dan tidak representatif. Atau karena saya luput perhatian dg sarapan-sarapan di tempat lain.

Apakah filosofi di balik tiga pilihan telur ini?

Mungkin tentang pilihan “memulai semangat”

kata sebagian orang, sarapan adalah pembuka semangat pagi. Sebagaimana nuansa sarapan tidak bisa diserupakan dengan nuansa makan siang, apalgi makan malam.

Sarapan dengan telur apa saja sebenarnya tak lah begitu dipusingkan oleh “kerongkongan ke bawah”, semua akan diproses dengan mekanisme yang sama.

Tapi bagi kerongkongan ke atas (taste bud di lidah, persepsi rasa di otak, dll) semua punya sensasi beda. tak kan sama telur bulat dengan mata sapi, yang pedas dengan yang manis.

ya semua ini tentang rasa dan cara…

Kadang kita mencintai hal yang sama, tapi dengan cara berbeda…
sebagaimana kita sama-sama cinta telur, tapi dengan cara mata sapi, telur bulat, atau dadar (asalkan jangan telur dan kulitnya saja :D )

tulisan liburan, apalah tu ya…?
28-1-2012

Garuda itu,
belum lagi di dada ini

Garuda itu,
belum lagi di kepala ini

Garuda itu,
juga mutlak-lah belum di kecipak langkah ini

anak muda miskin ini itu
anak muda minta ini itu
anak muda celoteh sana situ
anak muda koar sana koar situ

anak muda sesekali lupa diri
anak muda berkali-kali mengomentari, meneriaki, menjejali!!

ini anak muda,
lalu orang tua?

orang tua mengaku muda

memang muda rupanya,
muda karsa
muda bijaksana
muda cinta
muda rasa
muda gelora
ah, muda segala gala gala….!

Garuda itu.. ah.. Garuda itu menukik, menghentak!
Garuda menggelepar..

Garuda Emas

Bilik Juang, 24-1-2012