Diposkan pada Cengkerama

Sayang…

Literasi sastra memang indah tapi seringkali ambigu

Memelukmu mencukupkan nalar sastraku, betapa pelukan adalah kata-kata nyata

Mengecup pipi gembulmu menyudahi keinginanku memutar-mutar frasa, betapa harum pipimu adalah sastra itu sendiri

Menyisir rambut berombakmu, sambil sesekali iseng mengikat ekor kuda, menghentikan gairahku bermajas puitis, betapa engkaulah puisi itu sayang…


Bengkalis, 16 Agustus 2016

Kepada peri kecilku

Iklan
Diposkan pada Cengkerama

Alhamdulillah Balitaku Khattam Al-Qur’an

Judul tulisan kali ini diambil langsung dari judul buku yang akan sedikit saya review. Sedikit, tidak banyak-banyak. Mau banyak ya baca sendiri. Judul ini juga doa buat anak-anak kami, mohon diaminkan pembaca shalih/ah sekalian.

Sebelumnya, sungkem makasih banyak-banyak dulu buat kakanda baik hati, baik budi dan suka memberi, yaitu kak Dwi Karina Ariadni, alias kak Wina. Makasihhh kakakkkk!!! Buku ini seolah menggoyangkan tubuhku agar segera berhenti melamun dan ambil aksi nyata. 

Siapa yang tak punya mimpi anak-anaknya kelak masuk ke dalam barisan hufazh?? Mutqin 30 juz?? Siapa…??! Barangkali hanya non-muslim yang tak punya mimpi serupa. Muslim, yang sholatnya masih bolong-bolong sekalipun saya jamin, one hundred percent, girang dan bangga banget kalau anaknya hafal 30 juz Qur’an.

Nah, permasalahan nya adalah… Seringkali kita buta bin buntu dengan step-stepnya. Bermimpi tapi bingung. Dan akhirnya lama-lama jadi lalai, lalu apa jadinya? Mimpi pun tinggal mimpi. 

Itulah yang terjadi pada saya setidaknya. Hati saya sebenarnya berkata-kata, selain memperbanyak mendengarkan murattal dan sering mengaji di dekat anak, apa lagi langkah yang harus saya ambil? Gimana mau menghafal kalau belum bisa membaca Qur’an? Lantas gimana caranya supaya anak cepat baca Qur’an? Apa sebenarnya rahasia ibu-ibu yang anak2nya duluan menjadi hufazh? 

Pertanyaan ini berseliweran di benak saya. Namun karena belum menemukan jawabannya, saya pun abai memikirkannya. Apalagi muncul excuses dalam diri, seperti “Aysel kan masih 9 bulan, nanti ajalah mikirnya.” Hingga smpailah masanya buku sederhana tapi bermakna ini mampir ke tangan saya.

Buku berjudul “Alhamdulillah Balitaku Khattam Al-Qur’an” ditulis oleh DR. Sarmini, LC, MA. Ibu dengan tiga anak yang masing-masing anaknya mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali sebelum usia 5 tahun. Dari sini aja saya tersadarkan, sebelum bermimpi anak hafal Qur’an, saya harus lebih dulu bermimpi anak bisa segera baca Qur’an dengan mushaf, ringan untuk membaca Qur’an, dan termotivasi untuk mengkhattamkan Al-Quran. Bukankah tabiat dari penghafal Qur’an tu adalah senang membaca Qur’an berlembar-lembar? 

Maasya Allah, salah satu anak penulis bisa membaca Qur’an di mushaf langsung ketika berusia 3,7 tahun. Dan Alhamdulillah anak pertamanya sudah hafal Qur’an di usia 7,8 tahun. Tabarakallah…. Padahal kondisi mereka sangatlah berliku, dalam 10 tahun menikah harus berpindah-pindah domisili 9 kali, bolak balik sudan-indonesia untuk menyelesaikan s2 dan s3 dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan kala itu. Tapi seperti yang diungkapkan Dr. Sarmini, “jangan bergantung pada sarana, bergantunglah pada Allah untuk setiap cita-cita kita.”

Kembali ke buku ini, jumlah keseluruhan bab ada 13 bab. Bab pertama hingga kelima membahas seputar pertanyaan 3w; why, what, when. Kalau boleh saya listing: 

  1. Why: mengapa harus khattam saat balita? Jawabannya karena sebagai orang tua mereka ingin anak-anak sesegera mungkin berbaur dengan al-qur’an. Bagi mereka, dengan mengutamakan hak Allah maka akan Allah utamakan pula hak-haknya di dunia. Masa-masa balita adalah masa-masa emas, dan mereka ingin menjaga fitrah anak-anak dengan al-quran sedini mungkin.
  2. What: apa prinsip rumah tangga mereka? Apa prinsip-prinsip pembelajaran di rumah mereka? Apa kiat-kiat awal mereka? Jawabannya, mereka menjadikan Al-Quran sebagai issue utama yang terus digaungkan di dalam rumah. Bagi mereka sukses Qur’an dulu yang lain bakal ngekor, sehingga mereka menekankan sekali agar Al-Quran selesai di waktu kecil. Adapun prinsip-prinsip pembelajaran ialah dimulai dari yang paling mudah, mempermudah yang susah, menghargai proses dan tidak berfokus pada hasil, memperbanyak reward, yang penting cinta pada Quran bukan sekedar pandai membaca, dan berusaha agar kenangan bersama Al-Quran menjadi kenangan yang indah dan terus dikenang. Dalam hal ini mereka berusaha mempertemukan anak-anak dengan sosok-sosok Qurani yang inspiratif sehingga mendorong anak-anak untuk mengikuti jejak yang sama. Selain itu agenda quran sering dijadikan agenda piknik yang tidak melulu indoor. Uniknya, mereka mengadakan syukuran saat khattaman pertama kali dengan mengundangkan sanak kerabat dan tetangga, menjamu, dan berdoa bersama. Layaknya ulang tahun, anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka, dibuatkan kue tart cokelat, dan diberi hadiah, sehingga hal ini menjadi kenangan indah buat mereka. Perlu dicatat walaupun mereka menargetkan anak-anak khattam saat balita mereka tidak pernah memaksa, tapi terus berupaya, sehingga hasilnya pun subhanallah banyak akselerasi yang Allah izinkan. Dr. Sarmini mengungkapkan bahwa setiap kali anaknya berhasil pindah ke mushaf, ia selalu tertegun dan menangis sesungguhnya Allah sajalah yang mengajarkan mereka, tidak ada daya upaya selain atas izin-Nya.
  3. When: mulai kapan? Nah ini penting, dari dalam kandungan memang sudah sering diajak ngaji sama uminya. Penting ditargetkan bagi sesiapa yang lagi hamil, selama kehamilan usahakanlah ada khattam Qur’an, terserah berapa kali, semakin banyak semakin baik. Ketika bayi sering-sering diajak ngaji bareng, seperti sambil menyusui. Pengalaman saya, awal-awal menyusui sambil mengangkat mushaf itu tidak mudah, agak canggung, konsentrasi sulit fokus, tapi tidak boleh mengalah dengan keadaan, semakin sering akan terbiasa akhirnya. Dari buku ini point yang saya garis bawahi, proses belajar dapat dimulai saat anak sudah bisa mengucapkan kata sederhana, seperti mama-papa, metode awal sekali bisa dengan flash card yang memanfaatkan otak kanan. Berhubung Aysel sudah heboh babababa, dadadada, mamamam, maka setiap hari saya rutinkan sesi hijaiyyah flashcardnya. Satu huruf satu detik, semoga membuahkan hasil kelak. Kalau saya menggunakan printable flashcard karena lebih ekonomis. đŸ˜€ 

Masuk ke bab enam hingga akhir, banyak membincangkan soal teknis. Alhamdulillah ini bikin saya girang bangeeet!!!! Soalnya dapat tips langsung, pembaca budiman saya sarankan baca sendiri ya. Sebagai Al umm madrastul ula (ibu guru pertama), saya ingin sekali menjadi guru ngajinya Aysel kelak. Kebanyakan di masyarakat selalu menitipkan anaknya ke guru ngaji dengan alasan anak-anak suka manja kalau belajar sama ibunya. Setelah saya pikir-pikir, kok belum nyoba udah nyalahin anak sihhh???! Mereka yang manja atau kita yang manja? Gak mau belajar gimana ngajarin anak. Wallahua’lam, ini warning untuk diri saya sendiri, berhubung salah satu dreamlist adalah menjadi guru ngaji ana sendiri, aamiin. 

Back to the final session. Beberapa teknis yang diajarkan di buku ini terangkum dalam sub bab BAGAIMANA MEMULAI?

Pasti anda bertanya hal yang serupa, bukan?

Bocoran sedikit,

  1. Ajarkan bunyi huruf pada anak, bukan nama huruf. Ini selaras dengan metode al-hira’ yang dulu pernah saya ikuti. Jadi mengajar anak langsung dengan tanda baca, toh sebagian besar isi quran adalah  dengan tanda baca. Alhamdulillah sedari kecil kalau mendendangkan Aysel huruf-huruf hijaiyyah, saya langsung dengan bunyinya, “a ba ta tsa ja ha kho… || i bi ti tsi ji hi khi… || u bu tu tsu ju hu khu….”  Setau saya rerata anak di sekolahan diajarkan dengan nama huruf, sebaiknya ini diubah.
  2. Acaklah huruf-huruf untuk menghindari huruf yang sama simbolnya.
  3. Mohon dibaca sendiri ya, hehehe

Mungkin sekian rangkuman super singkat dari saya. Maaf atas keterbatasan waktu untuk menuliskan lebih panjang. Moga kita dapat menanamkan tiga hal pada anak kita, cinta nabinya, cinta ahlul bait, dan cinta Al-Quran. Allahumma aamiin….

Bengkalis, 6 Agustus 2016

Dari seorang umi yang sedang merancang

Diposkan pada Parenting

Pregnancy Flashback II

Jelang ashar di hari-hari terakhir Oktober (29) 2015, disambut rinai hujan, putri pertama kami akhirnya berpindah dunia, dari dunia rahim menuju dunia nyata. Dibantu oleh tim dokter dan perawat yang lembut dan well-trained, akhirnya operasi berjalan tenang, denyut nadi saya yang semula terus-menerus takikardi, perlahan kembali ke ambang normal. Usapan lembut dokter anestesi kala itu cukup magis,

“tenang yah,everything will be OK.

Saya ingat betul, selama operasi berlangsung, tim medis renyah bercanda ala Medan. Oh, ternyata rata-rata dokter dan perawat bedahnya memang berasal dari sono. Tak lama berselang, operator alias dokter obsgyn nya pun angkat bicara,

“Selamat Yoan, anaknya cewek ya..”
“Alhamdulillah… (Dalam hati, makasihhh ya Allah gak sia-sia beli perlengkapan pink2 hehe). Boleh saya liat dok?” jawab saya lemah. Bagaimana pun tubuh yang baru saja loss of blood berliter-liter tentu akan lemah.
“Nanti aja ya, Yoan istirahat dulu.”
Saya pun jatuh tertidur. Tak kuat mata melawan efek obat tidur intravena yang bekerja sepersekian detik. Sengaja diinjeksi untuk memberi kesempatan saya beristirahat sebelum akhirnya fight sebagai ibu baru. Selama tidur, proses penjahitan pun berlanjut. Dan Aysel dibawa ke recovery room.
Beberapa menit kemudian saya pun kembali tersadar, dan siap dibawa ke recovery room. Di atas bed dorong saya melihat sesosok bayi dalam box penghangat yang matanya terbuka bekerjap-kerjap. Bayi yang cukup panjang dan besar (50cm | 3,7kg).
“Apakah itu bayi saya??” saya sempat gak percaya bayi semontok itu berasal dari perut saya. Kok muat ya? Hehehe.

Proses IMD pun berlanjut. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) memang masih bisa dilakukan hingga kurang lebih 1 jam paska lahiran, jadi proses operasi bukanlah halangan untuk tetap menjalankannya. Bidan Aysel kala itu, yang juga konselor ASI, menadampingi kami dengan telaten dan sabar, sampai proses berhasil dan berakhir dengan air mata umminya Aysel yang tak bisa lagi ditahan.

Hal yang paling saya takuti ketika memutuskan untuk operasi adalah tidak bisa memenuhi hak pertama kali Aysel, yaitu IMD. Tapi Allah Maha Adil, operasi bukanlah halangan -bukan sama sekali- untuk sukses IMD. Yang penting keyakinan dalam hati, jiwa yang ngotot, dukungan seluruh keluarga -seluruh yaa, bukan suami aja-, dan the most crucial tentu saja pemilihan rumah sakit, harus yang juga ngotot no sufor yess  ASI.
Fine, saya rasa tulisan ini cukup disudahi sampai disini. Moga pesan-pesan moralnya dapat diambil, terutama untuk c-section mom, CPD mom, breastfeeding mom…




Bengkalis 2016

Saatnya memandang wajah kecil yang sedang pulas, sleep tight baby booo!

Diposkan pada Cengkerama

Sahabat Akhirnya Menikah

​Selamat Datang Agustus

Dari banyaknya rentetan pernikahan di tahun ini, mungkin cerita menuju pernikahan sahabat saya Alfina punya cita rasa tersendiri di hati.

Saya kenal Fina sejak awal kuliah, kita ditakdirkan ngekos di tempat yang sama. Fina si Batak dari Jakarta dengan “gue elu nya” adalah orang yang supel. Sehingga tidak sulit bagi kami menjalin hubungan (ceilehhh). Dan cukup kontras saat itu, background saya yang kemushola-musholaan dan Fina yang gak spesifik (hahah), tapi bisa klop. Kalau ke Jakarta biasanya saya juga sempat nginap di rumah ortunya Fina. Singkat cerita, saya akhirnya  kenal karakter Fina, begitu juga sebaliknya.

Tahun lalu, salah seorang junior minta nomor Fina ke saya, then i asked Fina, “would you, fin?”,

Fina malah membalas “menurut kamu?”

Saya santai aja menjawab, “kasi aja yah? Mana tau jodoh.” 

Saya sendiri malas nanya lebih lanjut, yang minta siapa yah? Dalam hati mengira-ngira, barangkali si junior itu yang punya “niat” (hehe peace). Dan singkat cerita, ternyata camer (calon mertua, red) Fina yang “kesemsem” sama Fina ketika bertemu di sebuah kajian di masjid. 

Syahdan, pemikiran sederhana saat itu ternyata akan berujung di sucinya ijab dan qabul. Ini yang masih tidak saya sangka. Tapi bukanlah perkara yang besar buat Allah SWT, semua telah tertulis, dan tinta telah mengering. 

Kilas balik 2014 lalu, Fina jadi sahabat saya mencurahkan galau gulana menghadapi proses ta’aruf dengan suami. Masih segar di ingatan, saat itu kami menyelesaikan sisa-sisa coass kami di RSUP Adam Malik, tepatnya di SR, rumah makan minang yang cukup tenar seantero Adam Malik. Dua tahun kemudian, kita -masih- sama2 tidak menyangka ternyata dulu Allah bermaksud ngajarin Fina gimana memilih pasangan hidup dengan menyandarkan keyakinan pada Allah semata.

Fina yang dulu bingung liat saya mau nikah sama orang yang belum begitu dikenal, ternyata sekarang juga melewati hal yang sama! Heheh…Ah, moga Allah meridhoimu Fina sayang…


Buat Alfina dan Bang Qivi, permulaan di masjid kala itu, semoga menjadikan hati kalian kelak semakin terikat dengan rumah-Nya, nama-Nya  dan seruan-Nya.. Semoga rumah tangga kalian yang akan wujud beberapa hari lagi mengantarkan kalian berdua pada produktivitas duniawi dan ukhrowi yang lebih baik. Aamiin

Lovely,

Ummu Aysel