Hidayatul-Qur’an

Bismillahirrohmaanirrohiim

Sahabat sekalian, mungkin banyak org yg masih me-fiksir pemahaman yang kurang tepat tentang hidayatul-qur’an di fikirannya. Sebagian besar mengira bahwa tanda-tanda dikasi hidayah sm Allah salah satunya adalah bisa menghafal cepat kilat, cukup dengan membaca 10 kali saja dah bisa lancar dan fasih membaca satu atau dua ayat tanpa melihat mushaf. Atau mengira tanda tsb adalah lewat kelancaran menyambung ayat tanpa muroja’ah berbulan-bulan. Atau lagi, mengira bahwa tanda Allah memberi hidayah adalah lewat waktu luang, lingkungan yang kondusif, dll. Hhmm… padahal, yang gak sibuk pun belum tentu hafal Al-Qur’an. Bukan begitu?

Saya tidak terlalu paham makna “hidayah” secara terminologi, tapi yang saya mengerti, bahwa hidayah adalah undangan Allah kepada kita untuk siap berproses terhadap sesuatu.  Sebutlah disini Al-Qur’an. Kesiapan kita salah satunya ditandai dengan sensitivitas kita menangkap signal-signal hidayah itu sendiri dan bersegera menangkapnya, lalu memrosesnya.

Ah, ribet ya? Baiklah, saya perjelas lg lewat contoh.
Ini sedikit kisah tentang diri saya. Saya mendefiniskan hidayatul-qur’an pada diri saya lewat rangkain undangan yang selalu Allah tambah dari waktu ke waktu. Dalam arti kata, setiap satu udangan yang saya respon, kemudian Allah tambah lagi dengan undangan kedua, ketiga, dst. Walaupun saya menyadari sebanget-bangetnya bahwa saya tak lah memberikan respon maksimal pada setiap undangan yang Allah beri. Alkisah, dulu saya pengen banget bisa baca Al-Qur’an dengan bener, berawal dari rasa malu sm temen2 SMA  lulusan sekolah islam yang menyimak bacaan saya waktu mentoring kala itu. Selanjutnya Allah jawab dengan memberi kesempatan belajar tahsin al-qur’an sm ust.Anshori di masa kuliah, yang ternyata hafizhul-qur’an. Ditambah lagi saat masuk tahun awal FK, saya kenal sama dua orang saudari yang udah mau masuk juz 29, rasanya panas banget tuhh, kok bisa juz 30 saya belum tuntas? Akhinya saya mulai ngafal dan nuntasin juz 30 saat itu.

Saya tak yakin itu undangan pertama, saya yakin sebelumnya Allah juga telah mengundang, tapi mungkin karena keteledoran pribadi, saya lalai.

Selanjutnya, tahun 2010 saya umroh, di Madinah saya nyaksiin seorang ibuk dengan perawakan bule (walo tak yakin betul dia western) sedang setoran surah Al-Kahfi sama seorang ustadzah berkulit gelap.
Selanjutnya, ketika di Mekkah, lebih sering lagi disuguhi pemandangan anak kecil yang duduk di tangga sambil muroja’ah pegang mushaf.

Balik ke Indonesia, kemudian dipertemukan dengan ustadzah Sa’adah, tepatnya di bulan ramadhan, kita gak sengaja i’tikaf bareng, dan kesempatan itu saya manfaatkan untuk mengeruk sebanyak-banyaknya hikmah dari beliau, terutama hikmah al-qur’an karena beliau pun adalah hafizhoh. Masih saya rekam perkataanypnya kala itu, “Ayat-ayat Al-Qur’an selalu punya nuasa berbeda dari waktu ke waktu. Misalkan kita mentaddaburi surah al-‘asr hari ini, saat kita taddabur lagi di waktu yang lain, sering sekali dapet lgi sesuatu yang baru.”

Kemudian tahun 2011, saya dipertemukan lagi tuh sm seorang adik sholihah wa hafizhoh di FK, semangat lagi. Dan beberapa bulan kemudian dikirim untuk ikut mewakili Sumut ikut Mukhayyam Quran Nasional, nah… disinilah hentakan demi hentakan saya rasakan. Berimam tahajjud langsung sm Sykeihul-Quran Indonesia, Ust. Abd Aziz Abd Rauf,Lc, yang selama ini selalu saya lahap buku2 quraniy karangannya. Dipertemukan jg dengan musyrifah enerjik, teh Lana Salikah Azhar, hmmm… semakin sesuatu. Belum lagi di mukhayyam saya melihat langsung dengan mata kepala orang2 ajaib, ya dalam tanda petik tentunya. Sebutlah ibu hamil muda yang semangat ngafal, ustadz Tamim (anggota DPR RI dg 10 anak penghafal Quran) yang semangat ikut MQ walaupun dri segi usia sudah jauh banget dari kita, bahkan beliau mengakui sendi2 kakinya udah sakit2an, namun tetep semangat ikut tahajjud jamaah slama lbh kurang 3 jam, ummahat dengan 8 anak yang bisa disebut senior dakwah di Magelang, dan banyak lagi… generasi tua saja tuh super semangat, apa kabar saya? Apa kabar kita semua?

Semua runtut kisah di atas saya renungi sebagai alarm undangan dari Allah SWT, setiap satu undangan yang saya coba sambut semampu saya, Allah sambut lagi dengan undangan berikutnya. Saya yakin begitu seterusnya, maka saya memelihara rasa “penasaran” dalam proses ini, “apa lagi yaa kejutan yang mau dikasi Allah?!”

Untuk saudara2ku semuanya, mari sama-sama menyadari undangan2 Allah tsb, sambutlah sedaya upaya kita, jangan sampai undangan tersebut ditarik oleh Allah swt, lalu diberikan pada ganti yg lebih baik, karena kita tak memedulikannya.. inilah musibatud-dien yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Na’udzubillah.
Adapun saya pribadi, masih pun berproses sangat awal dalam naungan Al-Qur’an ini, betapa indahnya ketika kita bisa bersama-sama dalam proses ini, saling kejar-kejar setoran, saling mendengarkan hafalan, dll… fastabiqul khairat adalah daya dukung besar dalam hifzhul-qur’an.

Saya teringat taujih shubuh Ust. Abd Aziz,
Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan di luar batas logika kita dalam proses bersama Al-Qur’an, baik itu tilawah, tahfizh, taddabur, maupun mendakwahkannya, setelah kita menyerahkan DP ke Allah SWT.
Apa tuh DPnya? DP tuh simplenya adalah bentuk usaha kita, bukti cinta walo kecil, Ya katakanlah tilawah 1 juz perhari scra konsisten, terus menerus tanpa pesimis menghafal walaupun itu ayat2 pendek. Ketika kita memberi DP kpd Allah, yakinlah bahwa perlahan2 kita akan merasakan surah Al-qamar itu berbicara,
“Walaqad yassarnal-qur’ana lidzdzikri fahal mim muddakiir.”
(Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-qur’an, adakah yang mau mengambil pelajaran?)
Al-Qamar: 17

Iklan

2 respons untuk ‘Hidayatul-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s