Posted in Cengkerama

My Experience; Advanced Trauma Life Support (ATLS)

Sembari menunggu STR (surat tanda registrasi) keluar paska internship, saya memutuskan untuk ikut ATLS di Pekanbaru, yang 5 hari setelahnya dilanjutkan dengan ACLS (akan saya bahas di tulisan berikutnya).

Kenapa saya ingin menuliskan pengalaman ini? Karena based on my true story, sebelum ATLS saya coba googling pengalaman2 orang yang ikut ATLS, ternyata cuma 1 tulisan yg saya temu, itupun udah berapa tahun lampau, udah kadarluwasa nurut saya.

Awalnya saya mau ngambil atls di Jogja karena di Pekanbaru kabarnya udah penuh, tapi iseng nanya lagi ke panitia Pekanbaru ternyata masih ada, alhamdulillah capcuss saya daftar. Pendaftaran dikenai biaya 5,5 juta IDR, lumayaan memang bo’, bisa buat jalan2. Kalo dari Bengkalis tinggal nyebrang aja ke Malaysia dg uang segitu udah bisa macam-macam. Tapi…  Mengingat ilmu itu harganya memang tidak murah, yasudahlah saya rela, demiii jadi dokter yang baek dan bekerja sesuai the latest guideline!! (Uhuk)

Oya sebelum memulai cerita, sedikit tantangan buat busui seperti saya, jadwal ATLS yg sangat padat harus disiasati dengan curi2 waktu untuk pompa ASI, karena kondisi PD yang superfull bisa mengganggu kehikmatan acara, seriuuss, so thanks to ayah ibu yang minjemin mobilnya, jadi pas ada waktu daku bisa cepat2 ngacir ke bawah untuk pumping. Karena asip tahan 8 jam di suhu ruangan, asip tinggal dibawa ke ruangan acara yang ber-AC, nyampe rumah langsung masuk kulkas, jadi belum perlu beli coolbox buat saya.

ATLS dilaksanakan selama 3 hari;
1. Hari pertama
Dimulai registrasi ulang dengan menyerahkan ijazah, pasfoto 3×4, dan pre test (soal dikasi saat kita ngambil buku panduan, biasanya sebulan sebelumnya, dan jangan khawatir ini bukan indikator kelulusan kok). Lalu dilanjutkan dengan pengenalan instruktur yang rata-rata dokter bedah dan anestesi, jujur saya berharapa kala itu ada salah satu dosen bedah saya dlu karena udah rindu aja dengan style orang Medan ngajar. Ternyata memang ada satu instruktur sebagai course director yang berasal dari Medan tapi udah lama kerja di Banten (saya juga gak kenal sih sebelumnya), tapi gaya2 batak nya masih gak berubah sedikitpun. Instruktur2 lainnya rata-rata dari Riau, alhamdulillah saya dapat pengalaman jg belajar dari dokter bedah riau yang tak kalah menarik.
Hari pertama ini dari pagi sampe siang kita dijejali materi tentang kenapa ada ATLS? Lalu bagaimana primery survey yang benar, dan trauma2 khusus pada thorak, abdomen, dan muskuloskeletal beserta pitfall yang sering terjadi.
Siangnya dilanjutkan peaktek bagaimana manajemen airway, breathing, dan circulation yang benar. Khususnya tentang intubasi, pemasangan cvc, dan intraoseus yang mungkin belum biasa saya lakukan. Oya sedikit perubahan pada panduan ATLS terbaru ed.9 dalam circulation tentang penerapan balanced ressucitation dengan permissive hypotension, maksudnya dalam resusitasi cairan pasien syok hemoragik sebaiknya 1L dlu dengan target tekanan darah sistol yang tidak lebih dari 90, karena tekanan darah yang lebih dari 100mmHg justru dianggap dapat memicu pecahnya clotting2 di pembuluh darah. Artinya jangan terlalu agresif dalam memberi cairan (dulu bisa sampe 2L) dan terlalu berpatok pada tekanan darah, cukup pada nadi dan akral.

2. Hari kedua dilanjutkan dengan materi secondary survey, serta keadaan khusus pada pediatri, geriatri, dan ibu hamil. Selanjutnya pada siang hari kita melakukan praktek venaseksi, surgical crychotiroidotomy, chest tube, DPL langsung pada kambing yang dibius total. Malangnya kambing kami agak kebal, fentanyl injeksi udah masuk berkali2 tp kambingnya tetap ngembik2. How poor that goat. Syukurlah kambing2 itu disembelih nantinya post diucek-ucek badannya sama peserta.

3. Hari ketiga, ini merupakan hari evaluasi bagi para peserta apakah mereka mencapai target dan sasaran atau tidak. Ada dua sesi, sesi pertama adalah ujian tulis in english yang seragam worldwide, ada salah satu peserta yang cerita dia nemu contoh soal ketika googling dari FB nya orang arab. Tapii soalnya lumayan advanced menurut saya, sehingga kita emang dituntut baca buku panduan yang udah dibagi jauh-jauh hari. Nah di akhir sesi ujian tulis ini ada yang gak nyampe target (skor 70), sehingga harus ikut remedial di tempat, fortunately, gak kayak dulu yang harus ikut ujian online lagi. Kira-kira begitu gambaran ujian tulisnya ya. Selanjutnya ujian praktek, tetap dengan niat para instruktur yang ingin kita pada pulang dengan sertifikat, maka diadakanlah demonstrasi dlu sebelumnya, baru kemudian kita satu persatu ujian. Nah kalo kita blocking bangeet saat ujian kita dikasi satu kesempatan untuk baca modul lagi di luar, kalo gak bisa jg, terpaksa kita harus ikut kursus ulang, alias pulang tanpa sertifikat. Sedihnya ada dua orang yang gak harus ngulang kursus pas kami kemarin, mereka dipanggil diem2 saat kami pada lunch, tapi gapapa lah ikut berikutnya gak bayar kok.
image

Alhamdulillah akhirnya saya pulang dengan sertifikat ATLS. Tapi saya tau esensi mengikuti ini bukanlah pada sertifikatnya, tapi pada ilmu dan pengalamannya yang memang kita butuhkan sebagai dokter umum, terutama di IGD. Walo ada yang nyeletuk pikir2 dulu buat ikut atls karena masa berlakunya yang hanya 5 tahun, saya gak gitu ambil pusing, demi jadi dokter yang baik mau gak mau kita memang harus upgrade diri terus. Memang di kuliah dlu kita ada diajarin tentang konsep primary dan secondary survey, tapi ternyata tak semua, banyak hal tertentu yang hanya diberikan di pelatihan ini. Pesan saya, tetap sempetin baca buku dulu ya, supaya nyambung saat materi.

Sekian dari saya, moga bermanfaat ya.

image

Bengkalis, 1 maret 2016.

Iklan

Penulis:

"Dolang" Itulah saya sekaligus mimpi saya. Meski tak semua yang memahaminya, namun "bidukkata" ini akan menjelaskan tafsirannya. Bisa jadi ia doa, asa, nada, suka cita makna, dan [bismillah] mudah-mudahan tak sekedar kata.. Alhamdulillah telah dipertemukan oleh-Nya dengan Fitra Perdana untuk mengarungi biduk kehidupan ini, telah pula dikaruniai seorang cahaya mata untuk menambah semarak biduk layar rumah asa kami, Sarah Aysel Mubina.. Hari esok tetaplah serpih2an cita yang coba kami rangkai dengan seksama.. Yaa Rabb, saksikan kami...

2 thoughts on “My Experience; Advanced Trauma Life Support (ATLS)

  1. Maaf ada yang mau saya tanyakan, untuk ATLS terbaru, penanganan awal pada trauma thorax apakah masih menggunakan prinsip A-B-C? Ataukah disamakan dengan penanganan henti jantung yang kini menjadi C-A-B?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s