Diposkan pada Cengkerama

Masih Tentang Rindu

Petang lalu, makcik kembali mengundang kami iftar jama’i di rumahnya. Tepat di bulan yang sama, tempat yang sama pula tahun lalu, ayah duduk di samping ibu. Adik-adiknya menyuguhkan macam-macam bukaan kepadanya. Namun dengan kondisi lambung yang semakin tertekan hepatomegalinya, beliau tk lagi bisa menikmati makanan dalam porsi banyak. Beliau hanya menggeleng sambil menunjuk perutnya, “tak bisa banyak-banyak.”

Selepas berbuka, ayah duduk bersama salah seorang ponakan kembarnya. Seperti biasa memberi sepatah dua wejengan. Karena siapapun tau, beliau adalah orang yang irit bicara. Si ponakan seperti biasa mendengarkan dengan takzim nasihat “Paklong” nya. Ayah memang punya tempat di hati para ponakannya, karena apa? Saya pun tak mengerti. Yang saya tau, ketika beliau wafat, ponakan2nya pulang ke Bengkalis, termasuk yang dari Jakarta tadi, tersedu melihat Paklong mereka, begitu terpukul, sampai ikut memandikan, ikut menguburkan. Cerita punya cerita, ayah memang punya cara tak biasa. Seperti menggati kacamata salah satu dari mereka, atau tiba-tiba menransfer uang ke ponakannya di jkt, dsb. Kami tak pernah tau sisi2 manis ayah, beliau selalu menyimpannya rapi2. Bahkan setelah ia tiada saya baru tau bahwa pin ATM ayah adalah tanggal lahir saya dan Aysel. 

Kematian.

Ya, kematian yang mana penduduk semuka bumi ini paham bahwa ia tak dapat dielak. Kepergian yang rasanya berat se-apapun harus diterima mentah-mentah. Disinilah kuasa Allah semakin nyata, bahwa jiwa-jiwa ini semata-mata adalah hak-Nya. 

Yang saya tau, ruh itu kekal, jasad itu fana. Ruh tempatnya di sisi Allah. Di sisi-Nya yang entah dimana. Oleh karenanya, kepada-Nya jua saya haturkan rasa teramat rindu ini. Rindu bercengkrama dengan ayah, bahwa Tun Mahathir tak disangka-sangka jadi PM lagi. Semoga segala penyakitmu di dunia menggugurkan segala dosamu, karena kami bersaksi bahwa kau tak pernah mengucapkan keluh yah. 

Ramadhan, 2018.

Iklan

Penulis:

"Dolang" Itulah saya sekaligus mimpi saya. Meski tak semua yang memahaminya, namun "bidukkata" ini akan menjelaskan tafsirannya. Bisa jadi ia doa, asa, nada, suka cita makna, dan [bismillah] mudah-mudahan tak sekedar kata.. Alhamdulillah telah dipertemukan oleh-Nya dengan Fitra Perdana untuk mengarungi biduk kehidupan ini, telah pula dikaruniai seorang cahaya mata untuk menambah semarak biduk layar rumah asa kami, Sarah Aysel Mubina.. Hari esok tetaplah serpih2an cita yang coba kami rangkai dengan seksama.. Yaa Rabb, saksikan kami...

2 tanggapan untuk “Masih Tentang Rindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s