Diposkan pada Cengkerama

Serba-serbi MPASI 

Food Safety Hazard MPASI

(rangkuman kulwap Cinta Asi Riau oleh dr. Dian, SpA, IBCLC)
Bahaya keamanan makanan ( food safety hazard ). Adalah istilah secara umum. Tetapi bisa kita terapkan pada proses penyiapan MP ASI. Faktor resiko tjd food safety hazard diantara makanan yang dibuat dari sumber bahan yang tidak aman, proses memasak yang tidak adekuat, mempertahankan makanan pada suhu yang tidak tepat, peralatan yang terkontaminasi dan kebersihan personal yang jelek. Yuk bahas satu by satu.

 1. Keamanan makanan pd proses penyiapan. Secara umum adalah memperhatikan kebersihan ( mencuci), ada bahan2 tertentu dari daging , produk susu , telur yang mengandung kadar protein tinggi akan menyebabkan bakteri berkembang cepat. Ada juga bahan makanan yang mengandung toksin ttt. Mis kacang merah harus dimasakan benar2 matang matang atau direbus hingga mendidik selama 10 menit utk menetralkan toksinya.. Solanin ( bagian hijau pada kentang ) tidak hilang ketika proses memasak dan harus dibuang. Ketimun kadang2 mengandung sekelompok racun yang bisa memberi rasa pahit pada makanan.

2. Keamanan pada saat proses memasak. Penggunaan suhu yang tepat merupakan hal terpenting pada saat pamanasan makanan, Pada suhu ruangan beberapa bakteri dapat berkembang biak pada hingga tingkat yang membahayakan. Pada suhu antara 4 -5 hingga 60 der C jumlah bakteri meningkat 2 kali lipat dalam rentang waktu 20 menit, Ini disebut zona berbahaya ( danger zone). Bakteri di dalam makanan bahkan berkembang lebin cepat pada suhu antar 21 dan 47 der C.
Keterkaitan dengan suhu dan pemanasan akan dibahas tentang pemakaian slow cooker. Ini boleh karena pemanasan yang dihasilkan antara 76.6 – 137.7 der C. Jadi sudah keluar dari danger Zone. Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan dengan pemakaian slow cooker: 

 a. Daging , ayam atau bahan beku, cairkan dalam refrigerator sebelum di masak dalam slow cooker

b. Kacang kering , khususnya kacang merah direndam selama 12 jam kemudian dibilas dan direbus selama 10 menit mendidikh seblum dimasukkan ke slow cooker. 

c. Memanaskan alat pada suhu tertentu pada satu jam pertama sebelum mulai memasak makanan akan membantu memulai pemanasan dengan cepat sehingga akan memperpendek waktu makanan berada pada danger zone.

d. Bila memasak daging atau ayam pastikan air yang diberikan harus meliputi seluruh bagian daging agar panas merata di dalam panci slow cooker dan jangan memasak terlalu penuh. Gunakan maksimum 1/2 hingga 2/3 bagian saja.

e. Jangan membuka slow cooker selama memasak bilamana tidak diperlukan, Setiap kalai slow cooker terbuka suhu akan turun hingga 10 – 15 derajat dan memerlukan waktu 30 menit utk kembali seperti semula.

Makanan sebaiknya segera dikonsumsi dan jangan menyimpang makanan sisa atau memanaskan kembali menggunakan slow cooker.

3. Keamanan makanan pada saat penyimpanan dan memanaskan kembali. a. Bila makanan akan akan dikonsumsi panaskan dengan cepat mencapai 60 der C atau lebih tinggi utk mengeluarkan dari danger zone dan mencegah multiplikasi bakteri. Praktisnya ya memang dipanaskan tetapi tidak sampai mendidih, asal ada gelembung2 berarti sudah lebih dari danger zone. Sehingga pemanasan ‘nanggung ‘ mis dengan air hangat atau magic coom tidak disarankan. 

b. Untuk memanaskan air sebanyak 2 liter perlu dididihkan selama 10 – 15 menit dan memerlukan waktu lebih lama utk makanan yang lain. Utk proses memangga dagingg di oven pastikan pemanasan minimal 163 der C

c. Jangan memanaskan makanan lebih dari sekali karena bakteri yang mencemari makanan akan meningkat sampai pada kadar yang membahayakan.

d. Jangan meletakkan makanan sisa ke dalam slow cooker.

e. The 4-hour/ 2-hour rule: adalah waktu dimana makanan aman dikonsumsi setelah dibiarkan pada suhu antara 5 der C – 60 der C. Dalam 0 – 2 jam konsumsi makanan segera atau simpan dalam kulkas pada suhu < 5der C. Padahal kulkas kita suhunya bervariasi antara 5 hingga 10 der C. Jadi menyimpan di kulkas sebenarnya bukan pilihan krn makanan akan tetap berada di danger zone.

Dalam 2-4 jam konsumsi makan segera. Setelah 4 jam makanan sebaiknya dibuang. Kalau mau dipanaskan lewatkan lebih dari danger zone, alias panaskan kembali hingga muncul gelembung2 ( nggak usah sampai mendidih betul).
4. Keamanan wadah. Utk bahan plastik pilih yang no kode 2,4, dan 5. Biasanya ditulis dibagian bawah wadah. Platik no 1 dan 7 gunakan hati2 bila tidak perlu memanaskan makanan. Plastik no 3 dan 6 harus dihindari.

5. Keamanan saat penyajian.  Penting cuci tangan. Bayi usia 6 bulan sudah mampu mengeksplorasi lingkungan dan seringkali mengambil benda yang terjatuh di lantai dan dimasukkan ke mulut. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri mampu berpindah ke makanan yang terjatuh dalam waktu 5 detik terutama pada permukaan keramik.
Sekalian kita kaitkan dengan food traveler pada bayi.

Jadi sebaiknya memang memberikan makanan yang segar ( dimasak kurang dari 2 jam) ke pada bayi , terutama dalam perjalanan. The pertanyaan is gimana bisa dok?

Beberapa hal yang bisa dipraktekkan :

a. Lihat jadwal perjalanan kita . Bila naik pesawat selama tidak menyeberangi benua biasanya hanya berkisar 1 – 2 jam perjalanan. Ditambah sebelum dan sesudah terbang sekitaran 4 – 6 jam. Artinya bisa diakalin ( sesuai saran bu dokter fifi) kasih makan sebelum pergi. Artinya kita punya waktu 4- 6 jam utk menyiapkan makanan selanjutnya. Nah selanjutnya sampai di mana kalau di rumah saudara/ortu dll pasti nggak masalah, kalau dihotel bisa dengan meminta nasi lunak dan telur rebus. Krn itu yang terbukti segar (kurang dari 2 jam). Bila bayi lebih besar usia 9 bulan tentu lebih gampang krn biasanya hotel menyediakan fasilitas room service 24 jam minta aja bubur ayam dl

b. Bila perjalanan darat. Lebih dari 8 jam sesuai peraturan safety memang seharusnya istirahat. Bila tidak bisa memasak dalam rentang 8 jam kemungkinan yang paling aman adalah MP ASI instant. Karena bersih dan gizinya terjaga. Bila memasak disarankan di tempat tujuan. Bila membawa makanan matang tidak dianjurkan karena akan membiarkan makanan berada dalam danger zone. Terdapat satu hal yang juga harus diperhatikan saat memberikan MP ASI yaitu: bahaya tersedak.  Beberapa contoh makanan yang harus dihindari utk diberikan kepada bayi : Sayuran mentah ( termasuk kacang hijau, seledri , wortel dll). He..he. ini agak aneh ya masak ngasih sayur mentah, tetapi harus ditulis krn di buku ini mengatakan begitu. Anggur, beri, ceri yang utuh atau melon dipotong bulat ( jenis buah2 ini harus dipotong seperempatnya dengan bagian tengahnya hrs dibuang. Buah kering yang tidak dimasak ( termasuk kismis).
Ini saya rangkum dari keamanan makanan pada MP ASI yang disampaikan pada simposium Pediatric Nutrition and Metabolic Update. 2017.

Iklan
Diposkan pada Cengkerama

Sebait Rindu

​Sewaktu-waktu saya bisa merasa sangat kehilangan, ketika sosok tempat saya bertanya banyak hal itu nyatanya tidak ada lagi. Benar saya bisa bercerita apa saja pada ibu, tapi tetap saja ada pertanyaan tertentu yang saya tau, hanya kepada ayah saya bisa mendapatkan jawaban lugasnya. 
Kadang masih sulit dipercaya, belum sampai 30 tahun saya hidup bersamanya. Walau kepergiannya terasa begitu “terencana”. Ya, hikmah besar di balik sebuah penyakit ternyata kematian dapat dirasa begitu dekat. Apa kabarnya kita? Bukankah yg sehat dan lengkap segalanya pun pasti mati? Ah ayah… 
Dalam rindu kami ikhlas, karena engkau pun nampaknya sudah tak sabar bertemu Tuhanmu. Bagaimana mungkin kami menghalangi pertemuanmu kepada-Nya? 

Meski menitis air mata kami teringat kala kau ambil tangan ibu dan kau lafaskan permohonan maafmu karena merasa sudah merepotkan ibu. Atau saat terbata-bata kau sampaikan urutan org yg kau cinta, suziyana, yoan utami putri, muhammad ikhsan al’fikri. Atau saat penuh kerisauan kau ucapkan siapa yg akan menemani ibu jika ayah tiada nanti.

Atau banyak sinyal lainnya… Yang kami tutup mata dengannya dan berusaha melalui, seolah-olah kita kan bersama 100 tahun lagi.
Banyak hikmah kehidupan yang kau tinggalkan ayah, semoga Allah menggugurkan segala dosamu dan mengumpulkan kita kembali kelak… Sungguh susah payah kami meredam rindu kami padamu…..

Diposkan pada Cengkerama

Sayang…

Literasi sastra memang indah tapi seringkali ambigu

Memelukmu mencukupkan nalar sastraku, betapa pelukan adalah kata-kata nyata

Mengecup pipi gembulmu menyudahi keinginanku memutar-mutar frasa, betapa harum pipimu adalah sastra itu sendiri

Menyisir rambut berombakmu, sambil sesekali iseng mengikat ekor kuda, menghentikan gairahku bermajas puitis, betapa engkaulah puisi itu sayang…


Bengkalis, 16 Agustus 2016

Kepada peri kecilku

Diposkan pada Cengkerama

Alhamdulillah Balitaku Khattam Al-Qur’an

Judul tulisan kali ini diambil langsung dari judul buku yang akan sedikit saya review. Sedikit, tidak banyak-banyak. Mau banyak ya baca sendiri. Judul ini juga doa buat anak-anak kami, mohon diaminkan pembaca shalih/ah sekalian.

Sebelumnya, sungkem makasih banyak-banyak dulu buat kakanda baik hati, baik budi dan suka memberi, yaitu kak Dwi Karina Ariadni, alias kak Wina. Makasihhh kakakkkk!!! Buku ini seolah menggoyangkan tubuhku agar segera berhenti melamun dan ambil aksi nyata. 

Siapa yang tak punya mimpi anak-anaknya kelak masuk ke dalam barisan hufazh?? Mutqin 30 juz?? Siapa…??! Barangkali hanya non-muslim yang tak punya mimpi serupa. Muslim, yang sholatnya masih bolong-bolong sekalipun saya jamin, one hundred percent, girang dan bangga banget kalau anaknya hafal 30 juz Qur’an.

Nah, permasalahan nya adalah… Seringkali kita buta bin buntu dengan step-stepnya. Bermimpi tapi bingung. Dan akhirnya lama-lama jadi lalai, lalu apa jadinya? Mimpi pun tinggal mimpi. 

Itulah yang terjadi pada saya setidaknya. Hati saya sebenarnya berkata-kata, selain memperbanyak mendengarkan murattal dan sering mengaji di dekat anak, apa lagi langkah yang harus saya ambil? Gimana mau menghafal kalau belum bisa membaca Qur’an? Lantas gimana caranya supaya anak cepat baca Qur’an? Apa sebenarnya rahasia ibu-ibu yang anak2nya duluan menjadi hufazh? 

Pertanyaan ini berseliweran di benak saya. Namun karena belum menemukan jawabannya, saya pun abai memikirkannya. Apalagi muncul excuses dalam diri, seperti “Aysel kan masih 9 bulan, nanti ajalah mikirnya.” Hingga smpailah masanya buku sederhana tapi bermakna ini mampir ke tangan saya.

Buku berjudul “Alhamdulillah Balitaku Khattam Al-Qur’an” ditulis oleh DR. Sarmini, LC, MA. Ibu dengan tiga anak yang masing-masing anaknya mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali sebelum usia 5 tahun. Dari sini aja saya tersadarkan, sebelum bermimpi anak hafal Qur’an, saya harus lebih dulu bermimpi anak bisa segera baca Qur’an dengan mushaf, ringan untuk membaca Qur’an, dan termotivasi untuk mengkhattamkan Al-Quran. Bukankah tabiat dari penghafal Qur’an tu adalah senang membaca Qur’an berlembar-lembar? 

Maasya Allah, salah satu anak penulis bisa membaca Qur’an di mushaf langsung ketika berusia 3,7 tahun. Dan Alhamdulillah anak pertamanya sudah hafal Qur’an di usia 7,8 tahun. Tabarakallah…. Padahal kondisi mereka sangatlah berliku, dalam 10 tahun menikah harus berpindah-pindah domisili 9 kali, bolak balik sudan-indonesia untuk menyelesaikan s2 dan s3 dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan kala itu. Tapi seperti yang diungkapkan Dr. Sarmini, “jangan bergantung pada sarana, bergantunglah pada Allah untuk setiap cita-cita kita.”

Kembali ke buku ini, jumlah keseluruhan bab ada 13 bab. Bab pertama hingga kelima membahas seputar pertanyaan 3w; why, what, when. Kalau boleh saya listing: 

  1. Why: mengapa harus khattam saat balita? Jawabannya karena sebagai orang tua mereka ingin anak-anak sesegera mungkin berbaur dengan al-qur’an. Bagi mereka, dengan mengutamakan hak Allah maka akan Allah utamakan pula hak-haknya di dunia. Masa-masa balita adalah masa-masa emas, dan mereka ingin menjaga fitrah anak-anak dengan al-quran sedini mungkin.
  2. What: apa prinsip rumah tangga mereka? Apa prinsip-prinsip pembelajaran di rumah mereka? Apa kiat-kiat awal mereka? Jawabannya, mereka menjadikan Al-Quran sebagai issue utama yang terus digaungkan di dalam rumah. Bagi mereka sukses Qur’an dulu yang lain bakal ngekor, sehingga mereka menekankan sekali agar Al-Quran selesai di waktu kecil. Adapun prinsip-prinsip pembelajaran ialah dimulai dari yang paling mudah, mempermudah yang susah, menghargai proses dan tidak berfokus pada hasil, memperbanyak reward, yang penting cinta pada Quran bukan sekedar pandai membaca, dan berusaha agar kenangan bersama Al-Quran menjadi kenangan yang indah dan terus dikenang. Dalam hal ini mereka berusaha mempertemukan anak-anak dengan sosok-sosok Qurani yang inspiratif sehingga mendorong anak-anak untuk mengikuti jejak yang sama. Selain itu agenda quran sering dijadikan agenda piknik yang tidak melulu indoor. Uniknya, mereka mengadakan syukuran saat khattaman pertama kali dengan mengundangkan sanak kerabat dan tetangga, menjamu, dan berdoa bersama. Layaknya ulang tahun, anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka, dibuatkan kue tart cokelat, dan diberi hadiah, sehingga hal ini menjadi kenangan indah buat mereka. Perlu dicatat walaupun mereka menargetkan anak-anak khattam saat balita mereka tidak pernah memaksa, tapi terus berupaya, sehingga hasilnya pun subhanallah banyak akselerasi yang Allah izinkan. Dr. Sarmini mengungkapkan bahwa setiap kali anaknya berhasil pindah ke mushaf, ia selalu tertegun dan menangis sesungguhnya Allah sajalah yang mengajarkan mereka, tidak ada daya upaya selain atas izin-Nya.
  3. When: mulai kapan? Nah ini penting, dari dalam kandungan memang sudah sering diajak ngaji sama uminya. Penting ditargetkan bagi sesiapa yang lagi hamil, selama kehamilan usahakanlah ada khattam Qur’an, terserah berapa kali, semakin banyak semakin baik. Ketika bayi sering-sering diajak ngaji bareng, seperti sambil menyusui. Pengalaman saya, awal-awal menyusui sambil mengangkat mushaf itu tidak mudah, agak canggung, konsentrasi sulit fokus, tapi tidak boleh mengalah dengan keadaan, semakin sering akan terbiasa akhirnya. Dari buku ini point yang saya garis bawahi, proses belajar dapat dimulai saat anak sudah bisa mengucapkan kata sederhana, seperti mama-papa, metode awal sekali bisa dengan flash card yang memanfaatkan otak kanan. Berhubung Aysel sudah heboh babababa, dadadada, mamamam, maka setiap hari saya rutinkan sesi hijaiyyah flashcardnya. Satu huruf satu detik, semoga membuahkan hasil kelak. Kalau saya menggunakan printable flashcard karena lebih ekonomis. 😀 

Masuk ke bab enam hingga akhir, banyak membincangkan soal teknis. Alhamdulillah ini bikin saya girang bangeeet!!!! Soalnya dapat tips langsung, pembaca budiman saya sarankan baca sendiri ya. Sebagai Al umm madrastul ula (ibu guru pertama), saya ingin sekali menjadi guru ngajinya Aysel kelak. Kebanyakan di masyarakat selalu menitipkan anaknya ke guru ngaji dengan alasan anak-anak suka manja kalau belajar sama ibunya. Setelah saya pikir-pikir, kok belum nyoba udah nyalahin anak sihhh???! Mereka yang manja atau kita yang manja? Gak mau belajar gimana ngajarin anak. Wallahua’lam, ini warning untuk diri saya sendiri, berhubung salah satu dreamlist adalah menjadi guru ngaji ana sendiri, aamiin. 

Back to the final session. Beberapa teknis yang diajarkan di buku ini terangkum dalam sub bab BAGAIMANA MEMULAI?

Pasti anda bertanya hal yang serupa, bukan?

Bocoran sedikit,

  1. Ajarkan bunyi huruf pada anak, bukan nama huruf. Ini selaras dengan metode al-hira’ yang dulu pernah saya ikuti. Jadi mengajar anak langsung dengan tanda baca, toh sebagian besar isi quran adalah  dengan tanda baca. Alhamdulillah sedari kecil kalau mendendangkan Aysel huruf-huruf hijaiyyah, saya langsung dengan bunyinya, “a ba ta tsa ja ha kho… || i bi ti tsi ji hi khi… || u bu tu tsu ju hu khu….”  Setau saya rerata anak di sekolahan diajarkan dengan nama huruf, sebaiknya ini diubah.
  2. Acaklah huruf-huruf untuk menghindari huruf yang sama simbolnya.
  3. Mohon dibaca sendiri ya, hehehe

Mungkin sekian rangkuman super singkat dari saya. Maaf atas keterbatasan waktu untuk menuliskan lebih panjang. Moga kita dapat menanamkan tiga hal pada anak kita, cinta nabinya, cinta ahlul bait, dan cinta Al-Quran. Allahumma aamiin….

Bengkalis, 6 Agustus 2016

Dari seorang umi yang sedang merancang