Baksos Fase Emak-emak

Allah menakdirkan saya memiliki suami dengan sekian banyak aturan, seperti harus mencuci tangan setelah memegang kunci (kunci apapun), mncuci kaki setiap masuk rumah, tidak memajang foto anak, meletakkan ikat pinggang di jemuran luar, dan hal-hal aneh lainnya.

Tapi alhamdulillah, beliau tidak melarang saya membaktikan ilmu saya kepada masyarakat dan masih memberikan keluasan saya untuk berelasi denga siapa saja. Walaupun beliau akan mengirim pesan-pesan elektronik yang “sesuatu”:

“Jangan lupa jaga pandangan, ingat perbuatan sebesar dzarrah pun akan dipertanggung jawabkan.”

Dan benar saja, pesan-pesan suami selalu berhasil menjadi alat kontrol saya.

12-13 agustus 2018, akhirnya saya terbuka hati untuk turun sebagai relawan medis. Teman seperjuangan yang kenal saya, mungkin masih ingat dengan aktivitas bakti sosial kita selama kuliah?

Macam-macam sudah dilewati, mulai dari naik gunung, menembus sungai, menyusuri tepi bibir licin danau toba, melintasi bekas area GAM, masuk hutan berjam-jam, dsb.

Hampir 4 tahun sudah saya meninggalkan dunia itu semua, sejak menikah lalu punya anak. Hati saya seolah tertutup. Not interested at all. Baru kemudian 2018 ini saya tiba-tiba rindu untuk kembali berbakti sosial. Ternyata, hati ini bukan tertutup, hanya sedang terkunci sementara. Pasalnya tentu saja si gadis kecilku, rasanya tak kuat membayangkan ia gelisah karena tak ada ummi yang akan mengantarkannya tidur, menghembuskan 3 Qul dan mengusapkan ke badannya.

Sekarang si gadis sudah semakin gadis, sudah bisa dititipkan bobok ke rumah aunty di Kulim. Dan ummi akhirnya mengiyakan tawaran bakti sosial ke Meranti.

Bersama tiga orang sahabat sejawat, kami bergabung dengan 4 bus grup IDI Riau yang memilih berangkat lewat Buton. Walau memakan waktu lebih lama, kami tiba juga di Meranti pada siang hari. Suasana kota melayu ini terasa sangat meriah dan penuh suka cita. Tau kenapa? Ternyata anak-anak hingga datuk-datuk sedang menanti kehadiran Ust. Abdul Somad. Ustadz yang sama-sama kita maklumi posisinya di hati masyarakat. Dekat, sangat dekat. Dengan memegang replika bendera kecil, mereka berjajar rapi di pinggiran jalan. Maasya Allah..

Baksos IDI kali ini unik, karena ia dibuka dengan rangkaian jamuan makan malam di rumah bupati, tabligh akbar Ust. Abdul Somad, penyerahan bantuan dana untuk pesantren Darul Fikri Meranti, tausyiah shubuh bersama sang Ustadz lagi, baru ditutup dengan penyebaran tim dokter ke titik-titik kecamatan di Meranti.

Qadarullah kami mendapatkan titik baksos di Desa Sokop, desa yang harus ditempuh dengan speed/pompong sekitar 30 menit, dilanjutkan menyusuri jalan bergerigi dengan motor roda dua. Profil sekilas Desa Sokop ialah dihuni oleh Suku Akit dengan kepercayaan terbesar masyarakat animisme/dinasmisme. Sangat sedikit muslim di tempat ini. Saya lantas haru mendengarkan kisah dakwah saudara-saudara kita dari Fitrah Madani yang diketuai oleh Ust. Ahmad Fauzi. Dakwah mereka telah menerobos pedalaman ini, hingga berdirilah sebuah surau Madani di tempat ini.

Bakti sosial berjalan di Poskesdes yang tak berlistrik karena kehabisan solar. Maasya Allah, tak apa panas-panas buk, semoga menjadi iktibar dan pelembut hati.

Tak lama kami disana, akhirnya sebelum zuhur kami kembali bertolak ke Selat Panjang. Perjalanan singkat penuh makna. Saya orang Riau asli, tapi saya merasa asing dengan negeri ini. Seolah saya masih lebih paham tentang Sumut daripada Riau. Semoga ada kesempatan lain waktu saya mencukupkan jejak kaki di ujung-ujung provinsi ini. Aamiin.

Pekanbaru,

13 Agustus 2018

Iklan

Abstrak Pertama (How to deal with your self?)

Sejak kuliah saya ingin meneliti sesuatu dan bermimpi bahwa apa yang saya teliti, selain bermanfaat, juga tembus publikasi ke jurnal nasional dan internasional.

Waktu berlalu, mimpi masih menjadi mimpi yang belum menemukan muaranya. Saya bingung memulai dari mana, topik nya apa, lalu publikasi kemana? Setiap saya melihat tema-teman yang sudah duluan maju, termasuk teman sekamar alias suami, saya cuma bisa membatin iki piye? Saya kok gak gerak-gerak?!

Sampailah pada satu ketika, saya diterima di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak di Pekanbaru-Riau. Kala itu tujuan saya bekerja mengamalkan ilmu, persiapan sekolah, dan menjadi bermanfaat. Lalu saya dikenalkan dengan seorang dokter spesialis anak di Poli Tumbuh Kembang. Awalnya  tidak ada yang istimewa. Mami Dian, begitu orang-orang memanggilnya, ternyata bukanlah se-biasa yang saya sangka di awal. Beliau mungkin satu-satunya dokter anak yang saya jumpai yang mau melayani pasien dengan durasi 1-2 jam, dibayar dengan sistem cost-sharing BPJS dan lebih sering FOC (free of charge), paling senang nraktir perawat untuk kursus macam-macam, seperti konseling menyusui, pelatihan MPASI, dll. Beliau juga seorang IBCLC yang sangat idealis tidak mau berkeja sama dengan produk sufor manapun, dan obat apapun. Hidupnya berkutat dengan baca jurnal, ikut seminar, bantu pasien, bantu orang, begitu seterusnyaSaat ini beliau sedang melanjutkan studi konsultan pediatri sosial nya di salah satu universitas di Jawa.

with mami
With Mami

Singkat cerita, pertemuan dengan beliau adalah kado terindah dari Allah. Lewat beliau, Allah membuka jalan untuk mimpi lama saya. Beliau adalah orang yang sangat mendorong orang lain untuk maju dengan visi Lillah semata. Kadang saya heran, ada orang hebat yang mau mikirin hidup saya di kala saya malas-malasan ngumpulin data, ngolah data, dan nyiapin data di jam-jam genting, alias tanggal deadline. Bahkan di tengah kesibukan studi nya sekarang, masih aktif memotivasi saya dengan caranya.

Juli 2018 alhamdulillah abstrak perdana saya lolos masuk ke jurnal Asia Pacific Journal of Developmental Differences. Abstrak ini sudah saya upload tahun lalu bersama dua rekan kerja saya, alhamdulillah pada awal tahun kemarin kami dikabarkan bahwa abstrak kami lolos. Penelitian kami ini mengangkat tema tentang Gangguan bicara eksprsif.

firstdebut
First Debut 🙂

Kemampuan bahasan dan bicara adalah indikator yang sangat bermakna pada tahapan tumbuh kembang seorang anak. Bahkan kemampuan ini berhubungan erat dengan siklus tumbuh kembang manusia secara umum. Uniknya, potensi gangguan bicara sudah bisa dideteksi saat bayi mulai mengeluarkan suara, mulai dari coing, bubbling, mengucapkan kata, dua kata, hingga merangkai kalimat. Masya Allah ini adalah sebuah proses penuh ibroh (hikmah).

Fungsi alamiah yang sudah diciptakan sedemikian rupa ini, ternyata memiliki beberapa penghambat dalam perkembangannya. Di dalam penilitian ini saya membagi sampel dalam dua kelompok, kelompok anak dengan riwayat kelahiran aterm dan kelompok anak dengan berat badan lahir di atas 2500 gram. Dari dua kelompok ini, hasil yang konsisten menunjukkan bahwa faktor penghambat signifikan untuk gangguan bicara adalah deleterious oral habit (penggunaan kompeng, menghisap jari, dan semacamnya), time spending with mother, maternal education’s level, dan bilingualism. Ada pun rekan saya yang lainnya, meneliti tentang efek screen time dengan gangguan bicara, dan jelas ini berpengaruh sekali.

hamdalah
Abstract

Tumbuh kembang memang ilmu yang sangat menarik bagi saya. Mudah-mudahan abstrak pertama ini menjadi spirit baru bagi dokter not yet resident seperti saya untuk terus belajar meskipun belum masuk (lagi) ke dunia pendidikan formal.

Ruang PMKP,

10 Juli 2017

Masih Tentang Rindu

Petang lalu, makcik kembali mengundang kami iftar jama’i di rumahnya. Tepat di bulan yang sama, tempat yang sama pula tahun lalu, ayah duduk di samping ibu. Adik-adiknya menyuguhkan macam-macam bukaan kepadanya. Namun dengan kondisi lambung yang semakin tertekan hepatomegalinya, beliau tk lagi bisa menikmati makanan dalam porsi banyak. Beliau hanya menggeleng sambil menunjuk perutnya, “tak bisa banyak-banyak.”

Selepas berbuka, ayah duduk bersama salah seorang ponakan kembarnya. Seperti biasa memberi sepatah dua wejengan. Karena siapapun tau, beliau adalah orang yang irit bicara. Si ponakan seperti biasa mendengarkan dengan takzim nasihat “Paklong” nya. Ayah memang punya tempat di hati para ponakannya, karena apa? Saya pun tak mengerti. Yang saya tau, ketika beliau wafat, ponakan2nya pulang ke Bengkalis, termasuk yang dari Jakarta tadi, tersedu melihat Paklong mereka, begitu terpukul, sampai ikut memandikan, ikut menguburkan. Cerita punya cerita, ayah memang punya cara tak biasa. Seperti menggati kacamata salah satu dari mereka, atau tiba-tiba menransfer uang ke ponakannya di jkt, dsb. Kami tak pernah tau sisi2 manis ayah, beliau selalu menyimpannya rapi2. Bahkan setelah ia tiada saya baru tau bahwa pin ATM ayah adalah tanggal lahir saya dan Aysel. 

Kematian.

Ya, kematian yang mana penduduk semuka bumi ini paham bahwa ia tak dapat dielak. Kepergian yang rasanya berat se-apapun harus diterima mentah-mentah. Disinilah kuasa Allah semakin nyata, bahwa jiwa-jiwa ini semata-mata adalah hak-Nya. 

Yang saya tau, ruh itu kekal, jasad itu fana. Ruh tempatnya di sisi Allah. Di sisi-Nya yang entah dimana. Oleh karenanya, kepada-Nya jua saya haturkan rasa teramat rindu ini. Rindu bercengkrama dengan ayah, bahwa Tun Mahathir tak disangka-sangka jadi PM lagi. Semoga segala penyakitmu di dunia menggugurkan segala dosamu, karena kami bersaksi bahwa kau tak pernah mengucapkan keluh yah. 

Ramadhan, 2018.

Serba-serbi MPASI 

Food Safety Hazard MPASI

(rangkuman kulwap Cinta Asi Riau oleh dr. Dian, SpA, IBCLC)
Bahaya keamanan makanan ( food safety hazard ). Adalah istilah secara umum. Tetapi bisa kita terapkan pada proses penyiapan MP ASI. Faktor resiko tjd food safety hazard diantara makanan yang dibuat dari sumber bahan yang tidak aman, proses memasak yang tidak adekuat, mempertahankan makanan pada suhu yang tidak tepat, peralatan yang terkontaminasi dan kebersihan personal yang jelek. Yuk bahas satu by satu.

 1. Keamanan makanan pd proses penyiapan. Secara umum adalah memperhatikan kebersihan ( mencuci), ada bahan2 tertentu dari daging , produk susu , telur yang mengandung kadar protein tinggi akan menyebabkan bakteri berkembang cepat. Ada juga bahan makanan yang mengandung toksin ttt. Mis kacang merah harus dimasakan benar2 matang matang atau direbus hingga mendidik selama 10 menit utk menetralkan toksinya.. Solanin ( bagian hijau pada kentang ) tidak hilang ketika proses memasak dan harus dibuang. Ketimun kadang2 mengandung sekelompok racun yang bisa memberi rasa pahit pada makanan.

2. Keamanan pada saat proses memasak. Penggunaan suhu yang tepat merupakan hal terpenting pada saat pamanasan makanan, Pada suhu ruangan beberapa bakteri dapat berkembang biak pada hingga tingkat yang membahayakan. Pada suhu antara 4 -5 hingga 60 der C jumlah bakteri meningkat 2 kali lipat dalam rentang waktu 20 menit, Ini disebut zona berbahaya ( danger zone). Bakteri di dalam makanan bahkan berkembang lebin cepat pada suhu antar 21 dan 47 der C.
Keterkaitan dengan suhu dan pemanasan akan dibahas tentang pemakaian slow cooker. Ini boleh karena pemanasan yang dihasilkan antara 76.6 – 137.7 der C. Jadi sudah keluar dari danger Zone. Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan dengan pemakaian slow cooker: 

 a. Daging , ayam atau bahan beku, cairkan dalam refrigerator sebelum di masak dalam slow cooker

b. Kacang kering , khususnya kacang merah direndam selama 12 jam kemudian dibilas dan direbus selama 10 menit mendidikh seblum dimasukkan ke slow cooker. 

c. Memanaskan alat pada suhu tertentu pada satu jam pertama sebelum mulai memasak makanan akan membantu memulai pemanasan dengan cepat sehingga akan memperpendek waktu makanan berada pada danger zone.

d. Bila memasak daging atau ayam pastikan air yang diberikan harus meliputi seluruh bagian daging agar panas merata di dalam panci slow cooker dan jangan memasak terlalu penuh. Gunakan maksimum 1/2 hingga 2/3 bagian saja.

e. Jangan membuka slow cooker selama memasak bilamana tidak diperlukan, Setiap kalai slow cooker terbuka suhu akan turun hingga 10 – 15 derajat dan memerlukan waktu 30 menit utk kembali seperti semula.

Makanan sebaiknya segera dikonsumsi dan jangan menyimpang makanan sisa atau memanaskan kembali menggunakan slow cooker.

3. Keamanan makanan pada saat penyimpanan dan memanaskan kembali. a. Bila makanan akan akan dikonsumsi panaskan dengan cepat mencapai 60 der C atau lebih tinggi utk mengeluarkan dari danger zone dan mencegah multiplikasi bakteri. Praktisnya ya memang dipanaskan tetapi tidak sampai mendidih, asal ada gelembung2 berarti sudah lebih dari danger zone. Sehingga pemanasan ‘nanggung ‘ mis dengan air hangat atau magic coom tidak disarankan. 

b. Untuk memanaskan air sebanyak 2 liter perlu dididihkan selama 10 – 15 menit dan memerlukan waktu lebih lama utk makanan yang lain. Utk proses memangga dagingg di oven pastikan pemanasan minimal 163 der C

c. Jangan memanaskan makanan lebih dari sekali karena bakteri yang mencemari makanan akan meningkat sampai pada kadar yang membahayakan.

d. Jangan meletakkan makanan sisa ke dalam slow cooker.

e. The 4-hour/ 2-hour rule: adalah waktu dimana makanan aman dikonsumsi setelah dibiarkan pada suhu antara 5 der C – 60 der C. Dalam 0 – 2 jam konsumsi makanan segera atau simpan dalam kulkas pada suhu < 5der C. Padahal kulkas kita suhunya bervariasi antara 5 hingga 10 der C. Jadi menyimpan di kulkas sebenarnya bukan pilihan krn makanan akan tetap berada di danger zone.

Dalam 2-4 jam konsumsi makan segera. Setelah 4 jam makanan sebaiknya dibuang. Kalau mau dipanaskan lewatkan lebih dari danger zone, alias panaskan kembali hingga muncul gelembung2 ( nggak usah sampai mendidih betul).
4. Keamanan wadah. Utk bahan plastik pilih yang no kode 2,4, dan 5. Biasanya ditulis dibagian bawah wadah. Platik no 1 dan 7 gunakan hati2 bila tidak perlu memanaskan makanan. Plastik no 3 dan 6 harus dihindari.

5. Keamanan saat penyajian.  Penting cuci tangan. Bayi usia 6 bulan sudah mampu mengeksplorasi lingkungan dan seringkali mengambil benda yang terjatuh di lantai dan dimasukkan ke mulut. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri mampu berpindah ke makanan yang terjatuh dalam waktu 5 detik terutama pada permukaan keramik.
Sekalian kita kaitkan dengan food traveler pada bayi.

Jadi sebaiknya memang memberikan makanan yang segar ( dimasak kurang dari 2 jam) ke pada bayi , terutama dalam perjalanan. The pertanyaan is gimana bisa dok?

Beberapa hal yang bisa dipraktekkan :

a. Lihat jadwal perjalanan kita . Bila naik pesawat selama tidak menyeberangi benua biasanya hanya berkisar 1 – 2 jam perjalanan. Ditambah sebelum dan sesudah terbang sekitaran 4 – 6 jam. Artinya bisa diakalin ( sesuai saran bu dokter fifi) kasih makan sebelum pergi. Artinya kita punya waktu 4- 6 jam utk menyiapkan makanan selanjutnya. Nah selanjutnya sampai di mana kalau di rumah saudara/ortu dll pasti nggak masalah, kalau dihotel bisa dengan meminta nasi lunak dan telur rebus. Krn itu yang terbukti segar (kurang dari 2 jam). Bila bayi lebih besar usia 9 bulan tentu lebih gampang krn biasanya hotel menyediakan fasilitas room service 24 jam minta aja bubur ayam dl

b. Bila perjalanan darat. Lebih dari 8 jam sesuai peraturan safety memang seharusnya istirahat. Bila tidak bisa memasak dalam rentang 8 jam kemungkinan yang paling aman adalah MP ASI instant. Karena bersih dan gizinya terjaga. Bila memasak disarankan di tempat tujuan. Bila membawa makanan matang tidak dianjurkan karena akan membiarkan makanan berada dalam danger zone. Terdapat satu hal yang juga harus diperhatikan saat memberikan MP ASI yaitu: bahaya tersedak.  Beberapa contoh makanan yang harus dihindari utk diberikan kepada bayi : Sayuran mentah ( termasuk kacang hijau, seledri , wortel dll). He..he. ini agak aneh ya masak ngasih sayur mentah, tetapi harus ditulis krn di buku ini mengatakan begitu. Anggur, beri, ceri yang utuh atau melon dipotong bulat ( jenis buah2 ini harus dipotong seperempatnya dengan bagian tengahnya hrs dibuang. Buah kering yang tidak dimasak ( termasuk kismis).
Ini saya rangkum dari keamanan makanan pada MP ASI yang disampaikan pada simposium Pediatric Nutrition and Metabolic Update. 2017.

Sebait Rindu

​Sewaktu-waktu saya bisa merasa sangat kehilangan, ketika sosok tempat saya bertanya banyak hal itu nyatanya tidak ada lagi. Benar saya bisa bercerita apa saja pada ibu, tapi tetap saja ada pertanyaan tertentu yang saya tau, hanya kepada ayah saya bisa mendapatkan jawaban lugasnya. 
Kadang masih sulit dipercaya, belum sampai 30 tahun saya hidup bersamanya. Walau kepergiannya terasa begitu “terencana”. Ya, hikmah besar di balik sebuah penyakit ternyata kematian dapat dirasa begitu dekat. Apa kabarnya kita? Bukankah yg sehat dan lengkap segalanya pun pasti mati? Ah ayah… 
Dalam rindu kami ikhlas, karena engkau pun nampaknya sudah tak sabar bertemu Tuhanmu. Bagaimana mungkin kami menghalangi pertemuanmu kepada-Nya? 

Meski menitis air mata kami teringat kala kau ambil tangan ibu dan kau lafaskan permohonan maafmu karena merasa sudah merepotkan ibu. Atau saat terbata-bata kau sampaikan urutan org yg kau cinta, suziyana, yoan utami putri, muhammad ikhsan al’fikri. Atau saat penuh kerisauan kau ucapkan siapa yg akan menemani ibu jika ayah tiada nanti.

Atau banyak sinyal lainnya… Yang kami tutup mata dengannya dan berusaha melalui, seolah-olah kita kan bersama 100 tahun lagi.
Banyak hikmah kehidupan yang kau tinggalkan ayah, semoga Allah menggugurkan segala dosamu dan mengumpulkan kita kembali kelak… Sungguh susah payah kami meredam rindu kami padamu…..

Sayang…

Literasi sastra memang indah tapi seringkali ambigu

Memelukmu mencukupkan nalar sastraku, betapa pelukan adalah kata-kata nyata

Mengecup pipi gembulmu menyudahi keinginanku memutar-mutar frasa, betapa harum pipimu adalah sastra itu sendiri

Menyisir rambut berombakmu, sambil sesekali iseng mengikat ekor kuda, menghentikan gairahku bermajas puitis, betapa engkaulah puisi itu sayang…


Bengkalis, 16 Agustus 2016

Kepada peri kecilku