Diposkan pada Parenting

Pregnancy Flashback II

Jelang ashar di hari-hari terakhir Oktober (29) 2015, disambut rinai hujan, putri pertama kami akhirnya berpindah dunia, dari dunia rahim menuju dunia nyata. Dibantu oleh tim dokter dan perawat yang lembut dan well-trained, akhirnya operasi berjalan tenang, denyut nadi saya yang semula terus-menerus takikardi, perlahan kembali ke ambang normal. Usapan lembut dokter anestesi kala itu cukup magis,

“tenang yah,everything will be OK.

Saya ingat betul, selama operasi berlangsung, tim medis renyah bercanda ala Medan. Oh, ternyata rata-rata dokter dan perawat bedahnya memang berasal dari sono. Tak lama berselang, operator alias dokter obsgyn nya pun angkat bicara,

“Selamat Yoan, anaknya cewek ya..”
“Alhamdulillah… (Dalam hati, makasihhh ya Allah gak sia-sia beli perlengkapan pink2 hehe). Boleh saya liat dok?” jawab saya lemah. Bagaimana pun tubuh yang baru saja loss of blood berliter-liter tentu akan lemah.
“Nanti aja ya, Yoan istirahat dulu.”
Saya pun jatuh tertidur. Tak kuat mata melawan efek obat tidur intravena yang bekerja sepersekian detik. Sengaja diinjeksi untuk memberi kesempatan saya beristirahat sebelum akhirnya fight sebagai ibu baru. Selama tidur, proses penjahitan pun berlanjut. Dan Aysel dibawa ke recovery room.
Beberapa menit kemudian saya pun kembali tersadar, dan siap dibawa ke recovery room. Di atas bed dorong saya melihat sesosok bayi dalam box penghangat yang matanya terbuka bekerjap-kerjap. Bayi yang cukup panjang dan besar (50cm | 3,7kg).
“Apakah itu bayi saya??” saya sempat gak percaya bayi semontok itu berasal dari perut saya. Kok muat ya? Hehehe.

Proses IMD pun berlanjut. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) memang masih bisa dilakukan hingga kurang lebih 1 jam paska lahiran, jadi proses operasi bukanlah halangan untuk tetap menjalankannya. Bidan Aysel kala itu, yang juga konselor ASI, menadampingi kami dengan telaten dan sabar, sampai proses berhasil dan berakhir dengan air mata umminya Aysel yang tak bisa lagi ditahan.

Hal yang paling saya takuti ketika memutuskan untuk operasi adalah tidak bisa memenuhi hak pertama kali Aysel, yaitu IMD. Tapi Allah Maha Adil, operasi bukanlah halangan -bukan sama sekali- untuk sukses IMD. Yang penting keyakinan dalam hati, jiwa yang ngotot, dukungan seluruh keluarga -seluruh yaa, bukan suami aja-, dan the most crucial tentu saja pemilihan rumah sakit, harus yang juga ngotot no sufor yess  ASI.
Fine, saya rasa tulisan ini cukup disudahi sampai disini. Moga pesan-pesan moralnya dapat diambil, terutama untuk c-section mom, CPD mom, breastfeeding mom…




Bengkalis 2016

Saatnya memandang wajah kecil yang sedang pulas, sleep tight baby booo!

Iklan
Diposkan pada Parenting

Pregnancy Flashback I

Flashback sedikit, selama kehamilan lalu kekhawatiran yang meliputi benak saya adalah seputar bagaimana saya dan baby sukses ASI,  soal persalinan saya tak ambil pusing (saat itu). Jadi ibarat sibuk mikirin dataran seberang tanpa begitu peduli gimana cara nyeberang lautnya. Hehe..
Nah kekhawatiran ini justru saya rasakan manfaatnya sekarang. Ia mendorong perasaan saya sedemikian rupa untuk bertanya head-to-toe tetang ASI kepada teman2 yang berpengalaman sebelumnya.

Hari berganti hari, minggu-minggu jelang persalinan pun datang. Hal yang tak saya duga pun datang, ternyata hasil cek adekuasi panggul menunjukkan promontorium teraba, ditambah perkiraan berat janin yang lumayan besar, sehingga hanya ada dua pilihan buat saya:
1. Elective c-section

2. Partus percobaan dengan segala risikonya yang jika gagal akan berujung pada emergency c-section

Maka dalam kebimbangan ” macam2″ yang berkecamuk dalam kepala, saya minta waktu seminggu untuk kesempatan buat keajaiban terjadi dan janin Aysel lahir normal. Seminggu berlalu, TBJ yang awalnya 3,3 kg naik jadi 3,5 kg dengan range kesalahan plus minus 200 gram. Usia kehamilan terus bertambah, janin juga semakin minim bergerak karena ruang pergerakan yang sempit kata dokternya, akhirnya bismillah… Saya putuskan lusa untuk penjadwalan operasi sembari menunggu suami datang.

Selanjutnya saya sudah tidak pusing lagi gagal “normal”, demi kemashlahatan, dan memang sudah qadarullah bahwa panggul dalam saya sempit relatif, toh lewat operasi tetap tak mengubah kedudukan saya kelak sebagai seorang ibu bukan? Tiga banding satu dibanding seorang ayah, begitu sabda Rasulullah saw. Lintasan pikirannya sekarang adalah, apakah goal IMD dan ASI eksklusif saya tetap tercapai gara-gara operasi operasi nanti??
Bersambung….

Diposkan pada Parenting

Ibu Tanpa Pamrih

Setelah menjadi orang tua, muncul perenungan-perenungan baru dalam hidup saya. Bahwa kalau sekarang ada perasaan repot ngurusin anak, maka ada saatnya mereka pun akan kerepotan dengan kita kala tua nanti. Ini bukan sesi balas dendam, tapi begitulah fitrahnya. Tak perlu pula ada perasaan bahwa mengurus sebaik-baiknya anak dari kecil agar kelak mereka juga bisa berbalik membalas berbuat baik pada kita.

Adalah Ayah saya, dulu sangat tidak sepakat saat ibu saya nyeletuk “belajar baik-baik, kalau dah jadi ‘orang’ boleh bawa ibu-ayah jalan-jalan”. Biasanya Ayah langsung menyela, “tak boleh sebagai orang tua ada perasaan begitu, pamrih namanya.”

Kini tiba saatnya saya di posisi orang tua, dan berusaha menanamkan pemikiran “ibu tanpa pamrih” pada diri. Alias tidak mengharapkan balasan apa-apa dari anak. Ajaib, mindset ini membuat hari-hari ribet mengurus anak terasa jadi mengasyikkan. Walau Aysel sudah menunjukkan gejala-gejala keberhasilan bonding alias gak mau lagi ditinggal-tinggal Ummi, maka itupun terasa membahagiakan. Sebagaimana yang dinukil di sebuah buku, bahwa bayi-bayi yang menangis tidak mau ditinggal oleh pengasuh pertamanya -yaitu ibu- maka ini menunjukkan bonding (ikatan) ibu-anak yang berhasil, yang akan berguna (justru) bagi kemandirian di masa depannya. Menakjubkan. Dan ini adalah hasil riset. Jadi kenapa harus sebel? Bersyukur banyak-banyak…

Kalau pun kelak mereka berbudi serupa pada kita, maka itulah hasil dari fitrah kasih sayang yang kita jaga dan semai pada mereka. Saat mereka tumbuh bahagia, insya Allah kita pun akan menua dengan bahagia. Seperti kata ustazah Wirianingsih, “Kau akan memanen apa yang engkau tanam”.

Bengkalis, 15 Mei 2016
Dari seorang ibu yang mulai ada penguntit 🙂

Diposkan pada Parenting

Ibu Adalah Dinamika

Ditakdirkan lahir sebagai perempuan  artinya ditakdirkan pula untuk tumbuh dengan fase-fase fitrah yang Allah tetapkan padanya.

Menilik ke belakang sedikit, bagaimana seorang perempuan yang berpuluh tahun hanya berpikir untuk dirinya sendiri, selera enak tidaknya sendiri, baju pakaiannya sendiri, tiba-tiba harus mengurusi orang lain, yang tak dikenal sama sekali sebelumnya. Syukur-syukur jikalau selera perutnya sama, baju pakaiannya gampang diatur, dan mau bantu-bantu pekerjaan rumah. Kalau justru dapat sebaliknya? Apa-apa ngritik, baju pakaian tak boleh salah dikit, dan semua main tunjuk. Perempuan dengan sedaya upaya ,walau harus pakai mewek dan mbatin, pastilah berusaha juga menyesuaikan. Mencoba menaikkan sedikit standar hari-harinya.

Nah, perempuan mampu berdinamika.

Tak lama menikah, ditakdirkan mengandung. Belum sempat beradaptasi dengan kehendak suami, harus pula beradaptasi dengan perubahan drastis fisiologis tubuh. Pagi-pagi yang penuh semangat berubah menjadi momok yang mengocok-ngocok perut, mual bukan main, ada yang pagi saja, ada pula yang seharian. Ada yang 3-4 bulan saja, ada pula yang sampai 9 bulan hingga melahirkan. Masuk ke trimester akhir, mulai tidur tak lena, miring kiri salah, kanan salah, telentang apalagi. Jari-jari mulai sulit digerakkan, teramat kaku, apalagi bangun tidur. Ah belum lagi segudang perubahan lainnya….

Ya, perempuan mau tak mau harus berdinamika.

Lepas 9 bulan lebih, anak pun lahir. Belum hilang bekas nyeri jahitan jalan lahir atau pun luka operasi, sudah ada makhluk mungil yang mulai meminta hak-nya untuk disusui, mulai dari hari itu hingga 2 tahun ke depan, tak tanggung-tanggung Allah menitahkan. Masa-masa 40 hari nifas adalah yang terberat menurut saya, mulai dari mendampingi hari-hari baru di kehidupan yang begitu asing bagi si kecil, di saat yang sama harus pula memulihkan diri, sungguh tak mudah.
Tapi apakah saya menyesali?
Tentu saja tidak..
Karena ibu adalah dinamika..

Dulu saya pikir membawa anak ke rapat dan kajian itu mudah, menyusui ala-ala ummahat di dalam jilbabnya mudah, tapi ternyata lebih berat dari jogging, pulang ke rumah saya dan si kecil tepar berjama’ah, sampai mau nangis buat mimik pun Aysel macam tak sanggup, hehe.
Tapi apakah saya jera?
Tentu saja tidak..
Karena ibu adalah dinamika..

Semua akan terasa lebih ringan dari waktu ke waktu karena elastisitas kemampuan ibu yang juga akan bertambah seiring waktu.

Benarlah jika satu penelitian mengungkapkan bahwa beberapa bagian dari lobus otak seorang perempuan baru akan aktif setelah ia mempunyai anak, inilah pembelajaran seumur hidup. Karena ada banyak lagi fase kehidupan anak yang harus dihadapi seorang ibu..

Ya, ibu adalah dinamika…

Bengkalis, 28 Maret 2016.