Rindu

Kerinduan yang sesungguhnya itu saya pahami setelah meninggalkan Aysel jaga malam dua malam berturut-turut.

Apa boleh buat, untuk menyelesaikan internship tepat waktu bersama teman-teman yang lain, saya memilih untuk tidak cuti melahirkan tiga bulan.
Ngenes memang paska melahirkan 40 hari langsung megang pasien lagi, berlenggang manis ke rumah sakit seperti tak ada kejadian apa-apa, hoho.

Walo sebagian kalangan menganut “apa salahnya beraktivitas sesegera mungkin paska lahiran”, tapi saya dengan lingkungan yang masih menganggap aneh hal demikian rasanya memang “break the rule” banget mulai kerja lagi di waktu yang relatif dini.

Ada kakak bidan yang komen begini,
“Kasian ya dok baby di rumah, harusnya dokter bobok cantik nih sama baby.”

Ahh…. Aysel… Sayang ummi…
Maaf ya nak, harus ikut terseret-seret dalam perjuangan ummi.. Di usia yang masih sangat belum pantas, Aysel akhirnya jadi anak kos, hehe… Karena mengingat jarak tempuh terdekat, terpaksalah kos yg dipilih. Bangunan 3×4 jadi saksi Aysel bisa muter kepala kiri kanan, miring badan kiri kanan, merespon senyum.. Ahh senangnya bisa mencontreng pencapaian2 Aysel di kolom yang sesuai dengan usianya.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal… Selalu lebih banyak nikmat yang harus disyukuri, mudah2an semua ini menjadikan engkau tumbuh tangguh dalam kesahajaan, Ananda…

IGD RSUD, 4 Januari 2016
Fajar, singsingkanlah lenganmu segera
Agar kuterobos embun pagi
Untuk memeluk si buah hati

Iklan

Sarah Kecilku…

Kepada ananda putri kecilku
Mari berjabat tangan tanda resmi persahabatan kita dimulai
Meski belum mampu tangan kecilmu menyambut genggamanku dan mencium pundak tangan sebagaimana takzim para putri kebanyakan pada ibundanya
Tak mengapa…
Karena aku tau telingamu telah fasih mendengar
Simpul-simpul sarafmu tak berhenti bekerja, mengukuh memori
Menyimpan dalam-dalam segala bisikku

Sarah kecilku…
Beribu harap kusemat padamu
Tentang akar-akar kebaikan yang -semoga- mencatut lekat pada peribadi-peribudimu
Tentang buah-buah kebaikan itu yang -semoga- dirasakan manisnya kelak oleh siapa saja yang mengenal atau (pun) tak mengenalmu sama sekali

Tumbuhlah engkau duhai Sarah kecilku..
Dengan aku sebagai sahabat batin-jiwamu, yang akan tanpa henti mendoamu dan menyeka air mata haru seperti pertama kali kita berpelukan dulu

Indah lah hendaknya seluruh komponen-struktur-dan fungsi dirimu…
Sebagaimana sedari dalam rahim kudodoi-dodoi nama dan maknamu, “Aysel… Aysel sayang…”

Cintaku tak usah kau tanya, tak perlu kau ragu…
Ia bahkan ada sebelum kau ada…

Teruntuk putri pertamaku,
SARAH AYSEL MUBINA
Bengkalis, 23 November 2015
Ditulis sembari mendodoi Aysel hingga jatuh dalam ruang mimpinya

Cara Agar Waktu Berjalan Lambat

Ternyata satu-satunya cara bagaimana agar waktu tak terasa cepat berlalu, yaitu berpisah raga dengan orang-orang terkasih; suami, ibu, ayah.

Walau ungkapan “jauh di mata dekat di hati” manis terdengar, tapi tetap saja tidak semanis yang dirasa. Karena mata dan hati selayaknya selalu bersatu dan tak dipisahkan.

Baru 2 bulan lebih sepertinya (aku tak mengingat betul tanggal pastinya) kami mencoba berlapang-lapang dada untuk berpisah, tapi kenapa waktu terasa berkali lipat lebih lama?

Kalau begitu mungkin, biarlah aku memilih waktu melaju cepat, asal itu di dekatmu dan bersamamu -bukan hanya suaramu-
Meskipun alih-alih dari berdua, Allah takdirkan -akan- bertiga, lalu 9 bulan berlalu dan kita benar-benar menjadi bertiga, dan tanpa terasa si kecil bakal memiliki adik lagi, lalu begitu seterusnya, sampai akhirnya si kecil beranjak dewasa dan menemukan takdirnya. Dan kita masih merasa baru kemarin sore duduk di pelaminan.
Maka, biarlah semua itu terasa cepat berlalu, asal di dekatmu dan bersamamu.

Hm, terasa mendramatisir?
Oh tentu saja tidak.
Bahkan mungkin apa yang dirasa tak benar2 bisa diceritakan, kecuali kau merasakan. Dan pastilah kau akan berkata “makanya aku tak memilih untuk menikah dulu sebelum semua tetek bengek berjalan normal.”

Dan hei kemarilah kubisikkan, mudah2an kau mengerti bahwa tidak ada kenormalan yang “nikmat” sebelum kau merasakan ketidaknormalan itu berdua dengan seseorang, bukan hanya antar dirimu sendiri.

Maka aku selalu mendidik diriku untuk tak sekedar melihat pernikahan pada kacamata hari ini, tapi selaksa panjang yang tidak akan berhenti bahkan hingga kematian menjemput, masing2 kita dibangkitkan, dan lalu Allah mengumpulkan lagi kita di taman-taman-Nya.

Ah, indahnya menikah…

Kamar jaga IGD RSUD Taluk Kuantan
11 april 2015

Belajarlah, ‘nanda…

Ananda
Jadilah engkau pembelajar dari mulai engkau meringkuk dalam rahim ibu
Lihatlah apa yang ibu lihat dari segala tetek bengek ketidaknormalan manusia2 yang mampir ke rumah sakit kecil ini
Agar kau mengerti…
bahwa tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini

Ananda
Dengarlah segala apa yang ibu dengar disini, mulai dari suara2 di sebalik stetoskop, nasihat-nasihat bijak konsulen, sampai ilmu-ilmu apa saja yang dibagikan teman2 ibunda disini
Belajarlah nak, belajarlah mendengarkan…
Karena Allah menitipkan dua telinga di tubuhmu
Agar kau jernih mendengarkan setiap kebaikan

Anada
Belajarlah mengabdi mulai dari engkau di dalam kandungan ibu
Ikhlaskanlah setiap penat-penat ibumu yg mungkin terbagikan padamu
Kuatkanlah semangatmu dalam membagikan dirimu

Sejatinya Allah hadirkan engkau untuk menambah abdi-abdi-Nya di muka bumi ini

Marilah belajar mulai kau meringkuk dalam rahim ibu nanda…

IGD RSUD Taluk Kuantan
*salam cinta untuk Abah nun di Jogja dari kami yang merindukanmu selalu..

Tiga Bulan

Delapan januari, genap 3 bulan kita tegak bersama, duduk bersama, dan kau memimpin ubun-ubunku…

Terimakasih duhai Rabbana
Yang mempersatukan kami,
Dan mudah-mudahan perteguhkanlah kami

Sungguh kekerdilan kami seutuhnya membutuhkan belai kasih bimbingan-Mu

Siapa kami jika bukan karena kehendak-Mu?
Bagaimana kami bisa saling menatah-natih jika bukan karena coretan lauh ketetapan-Mu?

Padamu Kak,
Terimakasih tak membuatku repot berpikir bagaimana membuatmu bahagia hari ini,
Cukup dengan bakwan dan pecal kesukaanmu…
Terimakasih sudah menyederhanakan banyak kerumitan dalam diriku
Terimakasih sudah rela-rela hatimu kutinggal-tinggal untuk mengeja kalam-Nya

Ah, aku bukan sedang menyanjungmu, Kak
Siapalah engkau -sebagaimana aku- jika hendak disanjung-sanjung?
Bukankah kita dua hamba dhaif yang alih-alih berani, karena diberanikan-Nya?
Bukankah kita dua hamba penuh ragu-ragu yang alih-alih yakin, karena diyakinkan-Nya?
Sungguh sanjung puji hanya teruntuk-Nya, yang menyempurnakan agamaku lewatmu, dan agamamu lewatku..

Perjalanan ini sungguh masih belia
Kita tak pernah tau sepanjang apa Allah takdirkan kita berkemas-kemas di dunia persinggahan ini..

Bukankah pesenggrahan kita tak disini?

Mari Kak, mari saling menanam rasa asing pada dunia ini
Sampai hati kita sungguh-sungguh jujur berkata,
Bahwa ia sungguh tak menaruh hati barang sejentik pun pada kefanaan persinggahan ini
Bukankah kita masih jauh dari itu?

Duhai… Allah selamatkan lah kami…

Tiga bulan pernikahan, 030115
Popongan, Sleman….

Wendra Jelang Akhirnya

Puisi W.S. Rendra menjelang akhir hayatnya :

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,

Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.